Amalan untuk dapat rezeki banyak atau menunaikan hutang

29 Mar

Doa Mujarrab untuk Dapat Rizki dan Tunai Hutang

Doa dan amalan ini saya kutip dari kitab Mujarrabat Imamiyah, hlm 141. Kitab yang telah ditajrib (dieksperimen) oleh banyak ulama, kaum mukminin dan muslimin. Memang syarat yang pertama adalah keyakinan yang kuat dan istiqamah dalam mengamalkannya sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Terus terang, saya pernah mempraktekkan amalan ini, alhamdulillah saya mendapat solusi yang tak terduga sebelumnya, dan menurut ukuran saya, rizki itu cukup besar. Saya menangis terharu dalam sujud syukur. Ya Allah, Engkau Maha Dermawan, diluar kemampuan pikiran hamba-Nya. Setiap saya punya hajat yang berkait dengan rizki, saya mengamalkan amalan ini dan ditambah “shalat Istighfar” (caranya ada di blog ini). Alhamdulillah saya memperoleh apa yang saya hajatkan, kadang-kadang singkat waktunya, kadang-kadang lama waktunya. Allah Maha Maha Mengetahui hajat kita yang sebenarnya, waktunya mendesak atau tidak. Karena itu kita butuh kesabaran, keyakinan yang kuat dan istiqamah dalam mengamalkan.

Yang mulia Sayyid Ali Akbar At-Tabrizi mengatakan: Sesungguhnya ayat tentang kerajaan (surat Al-Imran: 26-27), juga jika ditulis dan bawanya, dapat meluaskan pintu rizki. Selanjutnya beliau mengatakan: amalan ini telah ditajrib (dieksperimen) berkali-kali. Ayat dan cara mengamalkannya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِك الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَ تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَ تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَ تُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ‏ِ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَ تُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَ تُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَ تَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيرِ حِسَابٍ

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli `ala Muhammadin wa âli Muhammad

Qulillâhumma âlikal mulki tu’til mulka man tasyâu wa tanzi’ul mulka mimman tasyâu, wa tu’izzu man tasyâu wa tudzillu man tasyâu, biyadikal khayru innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr. Tûlijul layla fin nahâri wa tûlijun nahâra fil layli, wa tukhrijul hayya minal mayti wa tukhrijul mayyita minal hayyi wa tarzuqu man tasyâu bighayri hisâb.

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan (batas).” (Ali-Imran: 26-27).

Caranya Mengamalkan
Pertama: Dua ayat tersebut dibaca (40 kali) selama 40 hari.
Kedua: Setiap sesudah membaca dua ayat tersebut membaca Yâ Allâh (3 kali). Kemudian membaca doa berikut (3 kali):

اَنْتَ اللهُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، تَجَبَّرْتَ اَنْ يَكُونَ لَكَ وَلَدٌ، وَتَعَالَيْتَ اَنْ يَكُونَ لَكَ شَرِيكٌ، وَتَعَظَّمْتَ اَنْ يَكُونَ لَكَ وَزِيْرٌ. يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ، اِقْضِ حَاجَتِي بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِينَ

Antallâhu lâ ilâha illâ Anta wahdaka lâ syarîka lak, tajabbarta ay yakûna laka walad, wa ta’âlayta ay yakûna laka syarîk, wa tazhzhamta ay yakûna laka wazîr. Yâ Allâhu Yâ Allâhu Yâ Allâh, iqdhi hâjatî bihaqqi Muhammadin wa âlihi shalawâtuka ‘alayhi wa ‘alayhim ajma’în.

Engkaulah Allah tiada Tuhan kecuali Engkau Yang Maha Esa tida sekutu bagi-Mu. Terlalu Agung Engkau untuk mempunyai anak, Terlalu Tinggi Engkau untuk memiliki sekutu, Terlalu Besar Engkau untuk mempunyai menteri. Ya Allah Ya Allah Ya Allah, tunaikan hajatku dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad. Semoga semua shalawat-Mu selalu tercurahkan kepadanya dan kepada mereka semua.

Untuk Menunaikan hutang
Syeikh Ath-Thabrasi meriwayatkan bahwa Mu’adz bin Jabal berkata: Pada suatu hari aku tidak shalat Jum’at bersama Rasulullah saw. Lalu beliau bertanya: “Wahai Mu’adz, mengapa kamu tidak shalat Jum’at? Mu’adz menjawab: Orang yahudi menghadangku di pintu rumahku karena hutangku, lempengan emas, sudah jatuh tempo. Tidak ada yang menaruh kasihan padaku selainmu, orang yahudi itu mau memasukkan aku ke penjara. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Wahai Mu’adz, maukah kamu Allah yang menunaikan hutangmu? Mu’ad menjawab: Ya mau, ya Rasulullah. Rasulullah saw bersabda: “Bacalah (ayat tersebut di atas):

(قُلِ اللَّهُمَّ مَالِك … وَ تَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيرِ حِسَابٍ)

Kemudian membaca:

يَا رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالآخِرَة وَرَحِيمَهُمَا تُعْطِي مِنْهَا مَاتَشَاءُ، وَتَمْنَعُ مِنْهُمَا مَاتَشَاءُ، اِقْضِ عَنِّي دَيْنِي

Yâ Rahmânad dun-ya wak-âkhirah wa rahîmahumâ, tu’thî minhumâ man tasyâ’, wa tamna’u minhumâ man tasyâ’, iqdhi ‘annî daynî.

Wahai Yang Maha Pengasih dunia dan akhirat, Yang Maha Penyayang dunia dan akhirat, Engkau memberikan dari keduanya apa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menahan dari keduanya apa yang Engkau kehendaki, tunaikan hutangku.

Sekiranya kamu butuhkan bumi dipenuhi oleh emas, niscaya Allah menunaikan hutangmu.” (Tafsir Majma’ul Bayan)

 

Sumber : http://syamsuri149.wordpress.com/2008/06/04/doa-mujarrab-untuk-dapat-rizki-dan-tunai-hutang/

 

image002

Iklan

Manfaat dan keutamaan Shalawat

29 Mar

ahlulbaytDE-besmele-salawat

Keutamaan shalawat

1. Nabi Muhammad saww bersabda “siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali dan menghapus kesalahannya, menetapkan 10 kebajikan baginya dan kedua malaikat yang ada disisinya akan berlomba menyampaikan (salam) ruhku kepadanya”
2. Nabi Muhammad saww bersabda “siapa yang bershalawat kepadaku tiga kali diwaktu malam karena cinta dan rindu kepadaku maka Allah berhak mengampuni dosa-dosanya untuk malam dan siang harinya”
3. Imam Ali bin thalib berkata “shalawat kepada nabi dan keluarganya akan menghapus kesalahan, sedemikian hingga lebih cepat dari air memadamkan api; dan salam kepada nabi dan keluarganya lebih utama daripada membebaskan hamba sahaya”
4. Abu abdillah bertanya kepada sahabatnya “maukah kuberitahu sesuatu yang dengannya Allah memelihara wajahmu dari panasnya api neraka?” “ya” jawab mereka. “katakanlah setelah fajar Allahumma shalli ala muhammad wa ali muhammad sebanyak seratus kali. Kelak Allah akan memeliharamu dari panasnya api neraka.”
5. Imam Ali ar-ridha berkata “siapa yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa menggugurkan dosa-dosanya, hendaklah ia memperbanyak shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Karena sesungguhnya shalawat itu akan menghapus dosa-dosanya.”
6. Imam Muhammad al-baqir berkata bahwa Rasulullah saww bersabda “siapa yang bershalawat kepadaku dan tidak bershalawat kepada keluargaku maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya akan tercium sejauh perjalanan 500 tahun (diambil dari majalah syi’ar edisi; maulid)

IMAM AL-BUKHARI menyebutkan dari Ka’ab bin ‘Ajrah yang berkata bahwa Nabi ditanya: “Ya Rasulu-llah, salam kepada Tuan telah kami ketahui, namun bagaimana dengan shalawat?” Rasulullah menjawab, “Katakanlah oleh kalian, ‘Allahumma shalli ‘ala Muham-mad wa âli Muhammad”Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Ya Rasulullah, ini adalah salam, namun bagaimana kami mengucap-kan shalawat kepada Tuan?” Rasulullah menjawab, “Katakanlah oleh kalian ‘Allahumma shalli ‘ala Muham-mad wa âli Muhammad’.”

Imam al-Bukhari menyatakan di dalam Shahih-nya pada bagian al-Tafsir, bahwa menurut Abu al-‘Aliyah, maksud shalawat dari Allah itu adalah sanjungan Allah terhadap Nabi Muhammad saw di hadapan para malaikat-Nya. Sedangkan shalawat mala-ikat itu adalah doa. Sementara Ibn ‘Abbas mengartikan yushallûna ‘alayya sebagai yubarrikûn (mereka yang mem-berkati).

Dalam komentarnya atas tafsir Jalalayn tentang Surat al-Ahzâb ayat 56, al-‘Arif al-Shawi menya-takan bahwa di dalam ayat tersebut tersirat satu dalil yang amat besar bahwa Rasulullah saw adalah tempat curahan rahmat dan makhluk yang paling utama secara mutlak. Qadi ‘Iyadh berkata, “Seluruh ulama telah sepakat, bahwa ayat ini menunjukkan pengagungan dan pujian terhadap Nabi saw yang tidak terdapat pada selain beliau.”

Al-Hafizh al-Sakhawi berkata, Ayat itu memakai sighat mudhari’ (bentuk kini dan akan datang) yang menunjukkan sesuatu yang berkesinambungan dan terus-menerus, untuk menunjukkan bahwa Allah Swt dan seluruh malaikat-Nya selalu dan selamanya bershalawat kepada Nabi saw.

Fakhr al-Razi menjelaskan falsafah shalawat sebagai berikut:

Jika dikatakan bahwa, apabila Allah Swt dan para malaikat-Nya telah memberikan sha-lawat kepada Nabi saw, lalu apa perlunya lagi kita bershalawat? Kami mengatakan: “Shalawat atas Nabi itu bukan karena beliau membutuhkannya, bah-kan shalawat para mala-ikat pun tidak dibutuh-kannya setelah adanya shalawat dari Allah kepa-danya itu. Namun, se-mua itu adalah untuk menampakkan kebesar-an Nabi saw, sebagaima-na Allah telah mewajib-kan atas kita berzikir menyebut nama-Nya, padahal pasti Dia tidak membutuhkan semua itu. Namun semua itu adalah untuk menam-pakkan kebesaran-Nya dan sebagai belas kasi-han kepada kita supaya dengan adanya zikir itu, Dia memberi kita pahala.

Sebagian Hadis Ahlul Bait tentang Keutamaan Shalawat

1. Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali dan meng-hapus kesalahannya, menetapkan 10 kebajikan baginya dan kedua malaikat yang ada di sisi-nya akan berlomba menyampaikan (salam) ruh-ku kepadanya.”

2. Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang di sisinya namaku disebutkan lalu ia lupa ber-shalawat kepadaku maka akan dilambatkan baginya jalan ke surga.”

3. Rasulullah saw bersabda: “Jibril mendatangi-ku dan membawa berita gembira kepadaku, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Siapa yang bershalawat kepadamu maka Aku akan bersha-lawat kepadanya, siapa yang mengucapkan sa-lam kepadamu maka Aku akan mengucapkan salam kepadanya.’ Maka akupun sujud (ber-syukur) karena hal itu.”

4. Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku tiga kali di siang hari dan tiga kali di waktu malam karena cinta kepa-daku dan rindu kepadaku maka Allah berhak mengampuni dosa-dosanya untuk malam dan siang harinya.”

5. Imam Ja’far bin Muhammad al-Shadiq berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Keraskan su-ara kalian dalam bershalawat kepadaku. Se-sungguhnya shalawat itu menghilangkan nifaq (sifat munafik).”

6. Imam ‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Shalawat kepada Nabi dan keluarganya akan mengha-pus kesalahan, sedemikian hingga lebih cepat daripada air memadamkan api; dan salam kepada Nabi dan keluarganya lebih utama daripada membebaskan hamba sahaya.”

7. Abu ‘Abdillah bertanya kepada sahabatnya: “Maukah kuberitahu sesuatu yang dengannya Allah memelihara wajahmu dari panasnya api neraka.” “Ya,” jawab mereka. “Katakanlah sete-lah fajar Allahumma shalli ‘ala Muhammad waâli Muhammad sebanyak seratus kali kelak Allah akan memeliharamu dari panasnya api nera-ka.”

8. Imam ‘Ali bin Musa al-Ridha berkata: “Siapa yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa meng-gugurkan dosa-dosanya, hendaklah ia mem-perbanyak shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena sesungguhnya shalawat itu akan menghapus dosa-dosanya.”

9. Imam Ja’far bin Muhammad al-Shadiq ber-kata: “Shalawat kepada Nabi adalah wajib pa-da segala tempat, ketika bersin, melihat angin kencang dan lain sebagainya.” Imam ditanya, “Aku masuk ke Bait al-Haram sementara aku tahu doa apapun (yang dibaca) kecuali sha-lawat kepada Muhammad dan keluarganya.” Berkata Imam al-Shâdiq: “Sesungguhnya eng-kau telah melakukan sesuatu yang paling baik dari yang dilakukan oleh orang lain.”

10. Abu ‘Abdillah berkata: “Jika kalian berdoa ke-pada Allah hendaklah memulainya dengan shalawat kepada Nabi dan keluarganya karena shalawat kepada Nabi dan keluarganya diteri-ma di sisi Allah. Allah tidak menerima (seba-gian doa) dan menolak sebagian yang lain.”

11. Imam Ja’far al-Shâdiq berkata bahwa Rasulu-llah saw bersabda: “Sesungguhnya shalawat ke-padaku adalah (syarat di)ijabah doa-doamu dan ia adalah zakat (penyuci) untuk amal-amal-mu.”

12. Abu ‘Abdillah ditanya tentang makna ayat “In-nallâha wa malaikatahu yushallûna ‘alan Nabi…” (QS. 33:56). Beliau menjawab: “Shalawat dari sisi Allah sesungguhnya rahmat, dari sisi mala-ikat berarti penyucian (tazkiyah) dan dari sisi manusia berarti doa. Adapun firman Allah ‘wa sallimû taslîma’ adalah salam kepada Muham-mad saw.”

13. Imam Muhammad al-Baqir berkata bahwa Ra-sulullah saw bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku dan tidak bershalawat kepada keluar-gaku maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya akan tercium sejauh perjala-nan 500 tahun.”[]

(Disadur oleh Abu Zahra dari karya Mahmud Samiy, 70 Shalawat Pilihan: Riwayat, Manfaat dan Keutamaannya [Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. 6, 2000] dan Buletin al-Jawad No. 6, Keutamaan Shalawat [Bandung: Yayasan al-Jawad])

Keutamaan Bershalawat
Bershalawat kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa) memiliki banyak keutamaan bagi kita di dunia dan akhirat. Keutamaannya antara lainnya:
 
Pertama: 
Rasulullah saw bersabda:
 “Pada hari kiamat aku akan berada di dekat timbangan. Barangsiapa yang berat amal buruknya di atas amal baiknya, aku akan menutupnya dengan shalawat kepadaku sehingga amal baiknya lebih berat karena shalawat.” (Al-Bihar 7/304/72)
 
Kedua: 
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku tiga kali setiap hari dan tiga kali setiap malam, karena cinta dan rindu kepadaku, maka Allah azza wa jalla berhak mengampuni dosa-dosanya pada malam itu dan hari itu.” (Ad-Da’awat Ar-Rawandi: 89, bab 224, hadis ke 226)
 
Ketiga: 
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku ketika akan membaca Al-Qur’an, malaikat akan selalu memohonkan ampunan baginya selama namaku berada dalam kitab itu.”  (Al-Bihar 94/71/65)
 
Keempat: 
Rasulullah saw bersabda:
 “Pada suatu malam aku diperjalankan untuk mi’raj ke langit, lalu aku melihat malaikat yang mempunyai seribu tangan, dan setiap tangan mempunyai seribu jari-jemari. Malaikat itu menghitung dengan jari-jemarinya, lalu aku bertanya kepada Jibril: Siapakah malaikat itu dan apa yang sedang dihitungnya? Jibril menjawab: Dia adalah malaikat yang ditugaskan untuk menghitung setiap tetesan hujan, ia menghafal setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi. 
 
Kemudian aku bertanya kepada malaikat itu: Apakah kamu mengetahui berapa tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah menciptakan dunia? 
Ia menjawab: Ya Rasulallah, demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di kebun, di tanah yang bergaram, dan yang jatuh di kuburan.
 
Kemudian Rasulullah saw bersabda: Aku kagum terhadap kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan itu.
 
Kemudian malaikat itu berkata: Ya Rasulallah, ada yang tak sanggup aku menghafal dan mengingatnya dengan perhitungan tangan dan jari-jemariku ini.
Rasulullah saw bertanya: Perhitungan apakah itu?
Ia menjawab: ketika suatu kaum dari ummatmu menghadiri suatu majlis, lalu namamu disebutkan di majlis itu, kemudian mereka bershalawat kepadamu. Pahala shalawat mereka itulah yang tak sanggup aku menghitungnya.” (Al-Mustadrah Syeikh An-Nuri, jilid 5: 355, hadis ke 72)
 
Kelima: 
Rasulullah saw bersabda:
“Sebagaimana orang bermimpi, aku juga pernah bermimpi pamanku Hamzah bin Abdullah dan saudaraku Ja’far Ath-Thayyar. Mereka memegang tempat makanan yang berisi buah pidara lalu mereka memakannya tak lama kemudian buah pidara itu berubah menjadi buah anggur, lalu mereka memakannya tak lama kemudian buah anggur itu berubah menjadi buah kurma yang masih segar. Saat mereka memakan buah kurma itu tak lama segera aku mendekati mereka dan bertanya kepada mereka: Demi ayahku jadi tebusan kalian, amal apa yang paling utama yang kalian dapatkan? Mereka menjawab: Demi ayahku dan ibuku jadi tebusanmu, kami mendapatkan amal yang paling utama adalah shalawat kepadamu, memberi minuman, dan cinta kepada Ali bin Abi Thalib (sa).” (Ad-Da’awat Ar-Rawandi, hlm 90, bab 224, hadis ke 227)
 
Keenam: 
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Tidak ada sesuatu amal pun yang lebih berat dalam timbangan daripada shalawat kepada Nabi dan keluarganya. Sungguh akan ada seseorang ketika amalnya diletakkan di timbangan amal, timbangan amalnya miring, kemudian Nabi saw mengeluarkan pahala shalawat untuknya dan meletakkan pada timbangannya, maka beruntunglah ia dengan shalawat itu.” (Al-Kafi, jilid 2, halaman 494)
 
Ketujuh: 
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: 
 “Barangsiapa yang tidak sanggup menutupi dosa-dosanya, maka perbanyaklah bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena shalawat itu benar-benar dapat menghancurkan dosa-dosa.” (Al-Bihar 94/ 47/2, 94/63/52)
 
Kedelapan: 
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
 “Ketika nama Nabi saw disebutkan, maka perbanyaklah bershalawat kepadanya, karena orang yang membaca shalawat kepada Nabi saw satu kali, seribu barisan malaikat bershalawat padanya seribu kali, dan belum ada sesuatupun yang kekal dari ciptaan Allah kecuali shalawat kepada hamba-Nya karena shalawat Allah dan shalawat para malaikat-Nya kepadanya. Orang yang tidak mencintai shalawat, ia adalah orang jahil dan tertipudaya, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya serta Ahlul baitnya berlepas diri darinya.” (Al-Kafi 2: 492)
 
Syeikh Abbas Al-Qumi mengatakan bahwa Syeikh Shaduq (ra) meriwayatkan dalam kitabnya Ma’anil Akhbar: Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) menjelaskan tentang makna firman Allah saw, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi…: Shalawat dari Allah azza wa jalla adalah rahmat, shalawat dari malaikat adalah pensucian, dan shalawat dari manusia adalah doa.” (Ma’anil akhbar: 368)
 
Dalam kitab yang sama diriwayatkan bahwa perawi hadis ini bertanya: Bagaimana cara kami bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya? Beliau menjawab:
 
صلوات الله وصلوات ملائكته وانبيائه ورسله وجميع خلقه على محمّد وآل محمّد والسلام عليه وعليهم ورحمه الله وبركاته
 “Semoga shalawat Allah, para malaikat-Nya, para nabi-Nya, para rasul-Nya dan seluruh makhluk-Nya senantiasa tercurahkan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah senantiasa tercurahkan kepadanya dan kepada mereka.”
 
Aku bertanya: Apa pahala bagi orang yang bershalawat kepada Nabi dan keluarganya dengan shalawat ini? Beliau menjawab: “Ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti keadaan bayi yang baru lahir dari ibunya.” (Ma’anil akhbar: 368)
 
Kesembilan: 
Syeikh Al-Kulaini meriwayatkan di akhir shalawat yang dibaca setiap waktu Ashar pada hari Jum’at:
اللّهمّ صلّ على محمّد وآل محمّد الاوصياء المرضيين بأفضل صلواتك وبارك عليهم بأفضل بركاتك والسلام عليه وعليهم ورحمة الله وبركاته
 “Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, para washi yang diridhai, dengan shalawat-Mu yang paling utama, berkahi mereka dengan keberkahan-Mu yang paling utama, dan semoga salam dan rahmat serta keberkahan Allah senantiasa tercurahkan kepadanya dan kepada mereka.”
 
Orang yang membaca shalawat ini tujuh kali, Allah akan membalas baginya setiap hamba satu kebaikan, amalnya pada hari itu akan diterima, dan ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya di antara kedua matanya. (Al-Furu’ Al-Kafi 3: 429)
 
Kesepuluh: 
Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca shalawat berikut ini sesudah shalat Fajar dan sesudah shalat Zuhur, ia tidak akan mati sebelum berjumpa dengan Al-Qaim (Imam Mahdi) dari keluarga Nabi saw:
 
 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan percepatlah kemenangan mereka  .” (Safinah Al-Bihar 5: 170)

Pandangan resmi ulama-ulama panutan Syi’ah perihal para Sahabat dan Istri-Istri Nabi saw

24 Mar

url

Imam Sayyed Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah

 

 

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendeiawan Ahsa menyusul penghinaan-penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji mengaku bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri Nabi, Aisyah.

 

 

 

Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayyid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mun’min Aisyah.”

 

 

Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “ diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

 

 

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangakain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh “ Yasir al-Habib” terhadap Siti Aisyah.

 

 

Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

 

 

Berikut teks bahasa Arab fatwa tersebut:

 

 

نص الاستفتاء:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

سماحة آية الله العظمى السيد علي الخامنئي الحسيني دام ظله الوارف

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ،،

 

تمر الامة الاسلامية بأزمة منهج يؤدي الى اثارت الفتن بين ابناء المذاهب الاسلامية ، وعدم رعا ية الأولويات لوحدة صف المسلمين ، مما يكون منشا لفتن داخلية وتشتيت الجهد الاسلامي في المسائل الحساسة والمصيرية ، ويؤدي الى صرف النظر عن الانجازات التي تحققت على يد ابناء الامة الاسلامية في فلسطين ولبنان والعراق وتركيا وايران والدول الاسلامية ، ومن افرازات هذا المنهج المتطرف طرح ما يوجب الاساءة الى رموز ومقدسات اتباع الطائفة السنية الكريمة بصورة متعمدة ومكررة .

 

فما هو رأي سماحتكم في ما يطرح في بعض وسائل الاعلام من فضائيات وانترنت من قبل بعض المنتسبين الى العلم من اهانة صريحة وتحقير بكلمات بذيئة ومسيئة لزوج الرسول صلى الله عليه واله ام المؤمنين السيدة عائشة واتهامها بما يخل بالشرف والكرامة لأزواج النبي امهات المؤمنين رضوان الله تعالى عليهن.

 

لذا نرجو من سماحتكم التكرم ببيان الموقف الشرعي بوضوح لما سببته الاثارات المسيئة من اضطراب وسط المجتمع الاسلامي وخلق حالة من التوتر النفسي بين المسلمين من اتباع مدرسة أهل البيت عليهم السلام وسائر المسلمين من المذاهب الاسلامية ، علما ان هذه الاساءات استغلت وبصورة منهجية من بعض المغرضين ومثيري الفتن في بعض الفضائيات والانترنت لتشويش وارباك الساحة الاسلامية واثارة الفتنة بين المسلمين .

 

ختاما دمتم عزا وذخرا للاسلام والمسلمين .

 

التوقيع

 

جمع من علماء ومثقفي الاحساء4 / شوال / 1431هـــــ

 

 

جواب الإمام الخامنئي:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

يحرم النيل من رموز إخواننا السنة فضلاً عن اتهام زوج النبي (صلى الله عليه وآله) بما يخل بشرفها بل هذا الأمر ممتنع على نساء الأنبياء وخصوصاً سيدهم الرسول الأعظم (صلّى الله عليه وآله).

 

 

موفقين لكل خير

 

 

 

Sumber:

 

www.abna.ir

 

http://abna.ir/data.asp?lang=2&id=204925

Ijma’ Ulama Syiah : Tidak ada tahrif Qur’an

24 Mar

Pendapat ulama Syiah tentang tahrif Al-Qur’an

Ulama Islam secara keseluruhan, dan ulama Syiah secara khusus, berabad-abad menyatakan bahwa Al-Qur’an terjaga dari tahrif dan perubahan. Orang-orang yang menuduh Syiah meyakini tahrif Qur’an sama sekali tidak mau mendengar perkataan para ulama yang dinyatakan secara jelas dan tegas tentang keterjagaan kitab suci itu, dan mereka hanya memanfaatkan perkataan segelitir ulama dengan pendapatnya yang keliru. Padahal di setiap madzhab ada segelintir kelompok yang tidak memiliki pemikiran yang sesuai dengan madzhab aslinya.

Di bagian ini kami akan menjelaskan pendapat para ulama Syiah sepanjang sejarah tentang keterjagaan Qur’an dari tahrif:

1. Syaikhul Muhadditsin, Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain Shaduq (wafat tahun 381 H.) dalam sebuah risalah tentang akidah Syiah menjelaskan:

“Keyakinan kami adalah, Al-Qur’an yang telah diturunkan Allah swt kepada nabi-Nya adalah Al-Qur’an yang ada di tangan masyarakat saat ini, dan tidak lebih. Jumlah surahnya pun, sebagaimana yang diketahui oleh kita semua, 114 surah…” Lalu ia menambahkan: “Orang-orang yang menuduh kami meyakini bahwa Qur’an lebih dari apa yang ada sekarang adalah para penipu.”[1]

2. Syaikh Mufid (wafat tahun 413 H.) menulis:

“Sekelompok ulama Syiah menyatakan bahwa tak ada sedikitpun bagian Qur’an yang telah terhapus sebagaimana yang ada di Qur’an kita saat ini namun penjelasan-penjelasan ta’wil dan tafsir yang ada di Mushaf Imam Ali as telah terhapus. Ta’wil dan tafsir itu meskipun merupakan penjelas hakikat tanzil, namun bukan bagian dari wahyu yang diturunkan Allah swt kepada nabi-Nya. Menurutku penjelasan ini lebih benar daripada pendapat yang menyatakan bahwa beberapa kalimat Al-Qur’an ada yang dihapus. Aku memilih penjelasan tersebut, dan aku memohon Allah swt untuk menunjukkan aku jalan yang benar.”[2]

3. Sayid Murtadha Allamul Huda (wafat tahun 436 H.) menulis:

“Pengetahuan kita terhadap benarnya penukilan Al-Qur’an, bagai pengetahuan kita terhadap seluruh apa yang ada di tanah Arab, kejadian-kejadian besar sepanjang sejarah, buku-buku ternama dan syair-syair Arab yang tertulis. Sesungguhnya upaya penukilan dan penjagaan Qur’an dilakukan dengan motivasi dan usaha yang sangat besar sekali dan tak dapat kita bayangkan. Karena Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat nabi dan sumber syariat serta aturan-aturan agama, dan seluruh ulama Islam telah berusaha sebaik-baiknya untuk menjaga peninggalan suci itu, sampai-sampai perbedaan pendapat terkecil seperti terkait dengan harakat sebuah ayat saja pun mereka memahaminya dengan baik. Dengan kenyataan seperti ini, bagaimana mungkin Al-Qur’an telah dirubah dan dikurangi?”

Lalu ia juga menambahkan: “Pengetahuan terhadap bagian-bagian Qur’an bagaikan pengetahuan terhadap seluruh Qur’an. Hal ini sama seperti kitab-kitab yang tersusun seperti kitab Sibawaih atau selainnya. Seandainya ada satu bab yang ditambahkan atau dikurangi dari kitab Sibawaih, semua orang pasti mengetahuinya. Jelas perhatian umat Islam terhadap Al-Qur’an lebih dari segalanya, lebih dari perhatian mereka terhadap kitab-kitab yang bahkan ditulis oleh ulama mereka.”

Ia berkeyakinan bahwa Al-Qur’an di jaman nabi Muhammad saw adalah sama seperti apa yang ada di tangan kita saat ini. Dalam masalah ini ia berdalil demikian:

Seluruh Qur’an di jaman Rasulullah saw telah ditulis dan dihafal. Beliau sendiri menunjuk beberapa sahabat untuk menghafalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an yang mereka tulis pun dibacakan dengan jelas di hadapan nabi. Orang-orang seperti Abdullah bin Mas’ud dan Ubai bin Ka’ab telah mengkhatamkan Qur’an berkali-kali di hadapan nabi dengan tujuan jika sekiranya ada kesalahan beliau dapat membenarkannya. Itu semua membuktikan bahwa pada jaman nabi Al-Qur’an telah disusun dengan utuh.”

Sayid Murtadha menyatakan ketidak setujuannya terhadap pendapat sebagian kelompok Imamiyah dan Hasywiyah yang tidak meyakini keterjagaan Al-Qur’an dari perubahan, karena mereka dan para Ashabul Hadits selalu bertumpu pada riwayat-riwayat yang lemah yang mereka kira shahih dan dapat dipercaya. Padahal kita tidak dapat berdalih sama sekali dengan hadits-hadits yang sanad dan dilalahnya (penunjukannya) hanya bersifat dugaan.[3]

Sikap Sayid Murtadha tersebut sangat tegas sekali sehingga tak sedikit ulama Ahlu Sunnah yang berkata: “Ia mengkafirkan orang-orang yang meyakini Al-Qur’an telah ditahrif.” Ibnu Hajar ‘Asqalani menukil dari Ibnu Hazm: “Sayid Murtadha termasuk pembesar Mu’tazilah dan ia adalah Imamiah, namun ia mengkafirkan orang-orang yang meyakini bahwa Qur’an telah ditambahi atau dikuraingi.” Begitu pula Abul Qasim Radhi dan Abu Ali Thusi yang termasuk kawannya memiliki keyakinan yang sama.[4]

4. Syaikh Thusi yang dikenal dengan Syaikh Thaifah (wafat tahun 460 H.) dalam mukadimah tafsirnya menulis:

“Maksud dari kitab tafsir ini adalah menjelaskan makna-makna dan tujuan-tujuannya. Adapun tentang masalah ditambah atau dikuranginya Qur’an, adalah pembahasan yang tak dapat dibahas di kitab ini. Karena telah disepakati dengan ijma’ bahwa tidak benar adanya kemungkinan penambahan dalam Al-Qur’an. Tentang pengurangan Al-Qur’an, apa yang kita fahami dari pendapat umat Islam adalah tak ada pengurangan dalam Al-Qur’an. Pendapat madzhab kami yang benar adalah batilnya pendapat pengurangan Al-Qur’an. Dan sayid Murtadha pun telah membuktikan hal ini dan menekankannya, dan dhahir riwayat pun juga menunjukkan akan hal tersebut.

Memang ada beberapa riwayat tentang telah dikuranginya Al-Qur’an, atau dipindahkannya antara satu ayat dengan ayat lainnya dalam Qur’an. Namun karena riwayat-riwayat itu adalah khabar wahid, oleh karenanya kita tidak bisa terlalu mempercayai dan mengamalkannya. Ataupun jika kita anggap riwayat-riwayat itu benar, itu pun sama sekali tidak merugikan Al-Qur’an yang ada saat ini, karena tidak ada satupun yang meragukan kebenaran Qur’an yang ada di tangan kita sekarang dan tak ada pula yang membatilkannya.”[5]

5. Almarhum Thabrasi yang disebut dengan Aminul Islam (wafat tahun 548 H.) menulis:

“Pembahasan tentang dikurangi atau ditambahkannya Al-Qur’an bukanlah pembahasan tafsir. Tentang penambahan Al-Qur’an, secara ijma’ semua berpendapat bahwa itu tak mungkin. Adapun tentang pengurangan Qur’an,  sekelompok dari kawan kami dan juga sekelompok dari Hasywiyah berpendapat bahwa ada bagian yang telah dikurangi dari Al-Qur’an dan dirubah. Pernyataan yang benar di madzhab kami adalah bahwa semua pendapat itu batil. Sayid Murtadha pun dalam Jawab Al-Masail Al-Tharablusiyat telah menjawab pendapat itu dengan tegas dan rinci.”[6]

6. Sayid Abul Qasim Ali bin Thawus Hilli (wafat tahun 664 H.) menyatakan bahwa Al-Qur’an terjaga dari pengurangan dan penambahan, sebagaimana Akal telah menghukumi seperti itu, dan begitu juga syariat.[7]

Ia mengingkari apa yang diriwayatkan oleh Ahlu Sunnah dari Utsman dari Aisyah tentang adanya kesalahan dalam Al-Qur’an. Ia berkata:

“Apakah semua orang tidak heran akan sebuah kaum yang telah menyingkirkan Ali bin Abi Thalib, seorang lelaki Arab paling fasih dan paling faham terhadap Al-Qur’an setelah Rasulullah saw, lalu bertanya kepada Aisyah? Apakah orang-orang yang bijak tak faham bahwa hal itu dilakukan hanya karena rasa iri dan hasud…? Jika orang-orang Yahudi dan Zindiq mendengar Muslimin meyakini adanya kesalahan Al-Qur’an, pasti itu akan dibuat senjata bagi mereka untuk menyerang kita.”[8]

7. Allamah Hilli (wafat tahun 726 H.) dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya menulis:

“Ada yang bertanya kepada kami apakah benar kami meyakini bahwa Al-Qur’an telah ditambah atau dikurangi, atau urutannya telah dirubah? Atau semua itu tidak benar?

Hakikat yang sebenarnya adalah, tidak ada penambahan dan pengurangan dalam Al-Qur’an, dan tidak juga yang didahulukan atau diakhirkan dalam kitab suci itu. Demi Tuhan kami berlindung kepada Allah swt dari orang-orang yang punya keyakinan seperti ini. Karena orang yang berkeyakinan sedemikian rupa telah meragukan mukjizat nabi Muhammad saw yang telah sampai ke tangan kita secara mutawatir.[9]

8. Syaikh Zainuddin Bayyadhi Amili (wafat tahun 877 H.) menulis:

“Kita meyakini kemutawatiran Al-Qur’an dan seluruh bagiannya. Seluruh upaya dan usaha telah dikerahkan untuk menjaga kitab suci itu bahkan sampai-sampai banyak yang berikhtilaf pada nama-nama surah dan tafsirnya. Sebagian yang lain banyak yang tidak sekedar menghafalnya saja, namun juga berfikir dan mengkajinya, memahami makna dan hukum-hukumnya. Jika memang ada perubahan dalam Al-Qur’an, tiap orang yang berakal pun pasti faham, meskipun ia juga bukan seorang hafidz Qur’an. Karena dengan adanya pengurangan dan penambahan Al-Qur’an, kefasihan dan kedalaman maknanya akan terpengaruh.[10]

9. Syaikh Ali bin Abdul Ali Karki Amili, yang dikenal dengan Muhaqqiq Tsani (wafat tahun 940 H.) menulis sebuah risalah menentang pengurangan Qur’an. Mengenai riwayat-riwayat yang menjelaskan terjadinya pengurangan dalam Al-Qur’an ia berkata:

“Jika ada sebuah hadits yang bertentangan dengan dalil dan sunah mutawatir, atau ijma’, dan juga tak mungkin ditakwil dengan berbagai cara, maka hadits seperti itu harus diingkari.”[11]

10. Syaikh Fathullah Kasyani (wafat pada tahun 988 H.) dalam mukadimah Tafsir Manhajus Shadiqin, dalam menafsirkan ayat yang berbunyi “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya,” menyatakan bahwa tidak adak kekurangan apapun dalam Al-Qur’an.

11. Sayid Nurullah Syusytari yang dikenal dengan Qadhi Syahid (yang syahid pada tahun 1019 H.) dalam kitab Mashaib An-Nawashib fil Imamah wal Kalam menekankan keterjagaan Al-Qur’an dari pengurangan. Ia berkata:

“Apa yang dituduhkan kepada Syiah bahwa para penganut madzhab itu meyakini tahrif Al-Qur’an, sebenarnya sama sekali umat Syiah tidak berkeyakinan seperti itu, kecuali segelintir orang yang tidak terlalu penting bagi Syiah. Lalu keyakinan mereka dianggap sebagai keyakinan seluruh umat Syiah?”[12]

12. Syaikh Muhammad bin Husain yang dikenal dengan Syaikh Baha’i (wafat tahun 1030) berkata:

“Pendapat yang benar adalah, bahwa Al-Qur’an terjaga dari segala bentuk tahrif dan perubahan. Ayat Al-Qur’an sendiri adalah bukti jelas untuk keterjagaannya. Ia berfirman: “Dan kami sendiri yang menjaganya.” Apa yang ramai dibahas oleh banyak orang tentang nama Ali bin Abi Thalib telah dihapus dari ayat yang berbunyi “Wahai utusan Allah, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu,” yang mana menurut mereka bagian yang terhapus itu adalah: “tentang Ali bin Abi Thalib,” menurut para ulama tidak benar dan tak bisa diterima.”[13]

13. Syaikh Muhammad Muhsin yang dikenal dengan Faidh Kasyani (wafat tahun 1019) menulis:

“Jika kita menerima tahrif dalam lafadh-lafadh Al-Qur’an, maka tidak akan ada yang tersisa bagi kita untuk dipercaya. Karena kalau begitu mungkin saja setiap ayat yang kita baca telah ditahrif dan bukan sebagaimana yang telah diturunkan dari Allah swt. Lalu jika demikian maka Qur’an tidak hujjah lagi bagi kita, seluruh aturan-aturan di dalamnya tak dapat dijalankan, dan ajarannya sia-sia…”

Setelah itu beliau menukilkan pendapat Syaikhk Shaduq dan membawakan beberapa riwayat.[14]

Dalam tafsir ayat yang berbunyi: “Dan kita sendiri yang menjaganya,” ia berkata: “Maksudnya adalah Kami menjaganya (Al-Qur’an) dari pengurangan, penambahan dan perubahan.”[15]

14. Syaikh Muhammad bin Hasan Hurr Amili (wafat pada tahun 1104 H.) menulis:

“Jika seseorang bersedia mengkaji riwayat-riwayat dan juga sejarah, pasti ia akan yakin bahwa Al-Qur’an berada di prioritas tertinggi bagi umat Islam. Ribuan sahabat menghafal dan membaca Al-Qur’an, dan sejak jaman Rasulullah saw Qur’an telah disusun dengan bentuk satu kesatuan yang utuh.”[16]

15. Allamah Muhammad Baqir Majlisi (wafat pada tahun 1111 H.) pernah menulis:

“Banyak sekali riwayat dari para Imam yang memerintahkan kita untuk membaca Qur’an sebagaimana yang ada saat ini, serta melarang kita untuk melanggarnya atau bertindak lancang terhadapnya seperti menambah atau menguranginya. Mereka pun melarang kita untuk membaca huruf-huruf yang ditambahkan pada Qur’an karena beberapa riwayat. Dengan tegas mereka memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur’an yang mutawatir ini dan meninggalkan akhbar wahid (riwayat-riwayat yang tidak mutawatir). Karena mungkin saja riwayat yang tidak mutawatir itu salah.”[17]

16. Sayid Muhammad Thabathabai yang dikenal dengan Bahrul Ulum (wafat pada tahun 1212 H.) menulis:

“Kitab suci Allah swt, yaitu Al-Qur’an, Al-Furqan, adalah cahaya dan mukjizat sepanjang masa, merupakan kitab yang benar (al-haqq) yang tidak ada kebatilan di dalamnya. Qur’an ini diturunkan dari sisi Allah swt yang maha terpuji. Tuhan telah menurunkannya dalam bahasa Arab yang jelas untuk orang-orang yang bertakwa dan umat manusia…”[18]

17. Syaikh Ja’far Kasyiful Ghita (wafat pada tahun 1228 H.) menulis:

“Tidak diragukan bahwa atas kehendak Tuhan Al-Qur’an ini terjaga dari tahrif dan perubahan. Sebagaimana salah satu ayatnya menyatakan hal itu dengan jelas. Seluruh ulama Islam pun bersepakat tentang itu, dan tidak menghiraukan pendapat-pendapat minoritas yang bertentangan dengan mereka. Riwayat-riwayat yang menjelaskan kekurangan Al-Qur’an adalah riwayat-riwayat batil. Karena jika tidak pasti diriwayatkan secara mutawatir. Riwayat-riwayat itu dibuat dengan motivasi-motivasi tertentu, dan musuh-musuh Islam pun menggunakannya sebagai senjata menyerang Islam. Bagaimana mungkin tahrif Qur’an terjadi? Sedangkan umat Islam sejak awal telah menjaga dan menghafal setiap hurufnya? Oleh karena itu riwayat-riwayat tersebut harus diperiksa kembali.”[19]

18. Sayid Muhsin A’raji Kadzimi (wafat tahun 1228 H.) menulis:

“Ahlu Sunah tidak menerima Mushaf Ali bin Abi Thalib, karena mencakup tafsir dan takwil ayat-ayat Al-Qur’an (karena saat itu sudah biasa takwil dan tafsir ditulis di samping ayat-ayat Al-Qur’an. Imam Ali as saat berhadapan dengan Umar bin Khattab, tentang mushafnya berkata:

“Aku membawakan sebuah mushaf yang sempurna yang mencakup takwil dan tanzil, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh.”

Riwayat tersebut membuktikan bahwa mushaf yang dimiliki beliau lebih dari tanzil (Qur’an yang telah diturunkan sebagaiamana yang ada sekarang), karena mencakup catatan-catatan penting seputar tafsir, takwil, nasikh, mansukh, muhkam dan mutasyabih.”[20]

19. Sayid Muhammad Thabathabai (wafat pada tahun 1242) menulis:

“Tak diragukan bahwa Al-Qur’an dan seluruh bagiannya adalah mutawatir. Adapun tentang tempat dan urutan bagian-bagian dairi Qur’an, ulama Ahlu Sunah menyatakan itu pun mutawatir pula. Karena hal itu merupakan mukjizat abadi juga, dan para pendahulu kita melakukan usaha sebesar-besarnya untuk menukilkan bagian-bagian Qur’an dengan urutannya secara mutawatir.”[21]

20. Imam Khumaini ra (wafat pada tahun 1409 H.) menulis:

“Jika seseorang menyadari seperti apa umat Islam memberikan perhatiannya terhadap Al-Qur’an seperti menjaga dan menghafalkannya, pasti ia menyadari kebatilan riwayat-riwayat tahrif. Riwayat-riwayat itu pada dasarnya lemah dan tak dapat dijadikan dalil. Atau bahkan riwayat-riwayat itu palsu yang sama sekali tidak masuk akal. Kalau memang riwayat-riwayat itu benar, maka harus difahami dengan teliti dan perlu dikaji kembali. Karena bisa jadi yang dimaksud tahrif adalah perubahan dalam penafsiran dan pentakwilan, bukan perubahan dalam lafadz-lafadz dan huruf-huruf Qur’an yang sudah ada.

Untuk membahas masalah itu perlu ditulis satu buku tebal khusus yang membahas sejarah Al-Qur’an dan fase-fase yang telah dilewatinya secara detil. Singkatnya kitab suci Al-Qur’an adalah apa yang ada di tangan kita saat ini dan tidak adak kurang atau lebihnya. Adapun ikhtilaf dalam qira’ah adalah hal-hal baru yang muncul karena perbedaan ijtihad dan tak ada kaitannya dengan wahyu yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw.”[22]

21. Sayid Abul Qasim Khu’i (wafat pada tahun 1413 H.) menulis:

“Pendapat tahrif dan telah dirubahnya Al-Qur’an adalah pendapat yang lemah dan tak berdasar, yang mana tak ada satu pun orang berpendapat seperti itu kecuali akalnya tak berguna, atau tidak teliti dalam mengkaji masalah, atau mungkin karena pendapat pribadi dengan tujuan-tujuan tertentu ia berpendapat seperti itu. Karena ada orang-orang tertentu yang telah dibutakan oleh kecintaan, mereka menerima riwayat-riwayat seperti ini tanpa melakukan kajian terlebih dahulu. Adapun orang yang berakal dan pintar, tanpa ragu ia menolak pendapat sedemikian rupa.”[23]

22. Syaikh Luthufllah Gulpaygani menulis:

“Al-Qur’an yang ada di tengah-tengah kita saat ini adalah kitab suci kita, semua madzab Islam, dan sumber utama syariat kita. Baru setelah itu sunah adalah sumber kedua kita, itu pun dengan syarat tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang kita jadikan sumber dalil dan penyelesai ikhtilaf bersama. Jadi Ahlu Sunah dan Syiah semuanya beriman kepada kitab suci ini dan berpegang teguh kepada muhkamat-nya (ayat-ayat muhkam-nya) dan dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabihat kita berkata: “Kami beriman kepadanya. Seluruhnya dari sisi tuhan kami.”.”[24]


[1]. Kitab I’tiqadat Al-Imamiyah (dicetak dengan Syarah Bab Hadi Asyar): hal. 93-94.

[2]. Awailul Maqalat fil Madzhahibil Mukhtarat: hal. 55-56.

[3]. Majma’ul Bayan: jil. 1, hal. 15, menukil dari Al-Masail Al-Tharablusiyat, Sayid Murtadha.

[4]. Lisanul Mizan: jil. 4, hal. 223.

[5]. Al-Tibyan fi Tafsiril Qur’an: jil. 1, hal. 3.

[6]. Majma’ul Bayan: jil. 1, hal. 15.

[7]. Sa’ad Su’ud: hal. 192.

[8]. Ibid: hal. 266.

[9]. Ajwibatul Masail Mahnawiyah: hal. 121.

[10]. Al-Shirath Al-Mustaqim: jil. 1, hal. 45.

[11]. Mabahits fi Ulumil Qur’an, Khaththi: Syarah Al-Wafiyah fi Ilmil Ushul telah menukilkannya.

[12]. ‘Ala’urrahman, Balaghi: jil. 1, hal. 25; Qaulul Imamiyah Bi ‘Adamin Naqishah fil Qur’an, menukil dari Mashaibun Nawashib; Asy-Syi’ah fil Mizan: hal. 314.

[13]. ‘Ala’urrahman: hal. 26.

[14]. Al-Wafi: jil. 1, hal. 273-274.

[15]. Ash-Shafi fi Tafsiril Qur’an: jil. 3, hal. 348.

[16]. Risalah ini disebutkan dalam kitab Al-Fushul Al-Muhimmah, Sayid Syarafuddin: hal. 168.

[17]. Biharul Anwar: jil. 92, hal. 74.

[18]. Al-Fawaid fi Ilmil Ushul, Khaththi: Mabhats hujjiyah dhawahiril kitab.

[19]. Kasyful Ghita’ fil Fiqh, Kitabul Qur’an: hal. 299.

[20]. Syarh Al-Wafiyah fi Ilmil Ushul: tulisan tangan.

[21]. Mafatihul Ushul: Mabhats Hujjiyatul Dhawahir.

[22]. Tadzhibul Ushul: jil. 2, hal. 165.

[23]. Al-Bayan fi Tafsiril Qur’an, Khu’i: hal. 259.

[24]. Al-Qur’an Mashunun Anit Tahrif: jil. 5, cet Darul Qur’an Al-Karim; Shiyanatul Qur’an Minat Tahrif, Ayatullah Ma’refat: hal. 44-70; Al-Tahqiq fi Nafy At-Tahrif: hal. 10-26.

Sumber : http://hauzahmaya.com/artikel/2012/10/21/pendapat-ulama-syiah-tentang-tahrif-al-quran/

 

urlc

Ulama Syi’ah mengharamkan melukai diri dihari Asyura

24 Mar

Fatwa-Fatwa Resmi Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

rahbar-ashura

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil Syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelak dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahawa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan Bid’ah menurut agama dan Mazhab.

Ayatullah Musykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

– FATWA ULAMA YANG MASIH HIDUP –

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggaln dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani sahaja yang dibenarkan…. mengapa?
Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah sentiasa menyedari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.

Sumber : http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=217122

Syi’ah menghormati para sahabat dan istri Nabi saw

24 Mar

FILES-MIDEAST-IRAN-PALESTINIAN-ISRAEL-HAMAS-YASSIN

Pandangan resmi ulama-ulama panutan Syi’ah Itsna asy’ariyah perihal para Sahabat dan Istri-Istri Nabi saw

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan : “Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam.. Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as)..Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil””

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan, “Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil.” -Qom-

Ayatullah Jaafar Subhani dalam kuliah tafsir surah al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh mendedahkan, “Hanya orang yang tidak berpelajaran sahaja yang menganggap sahabat nabi bersikap adil dari awal sampai akhir hayat mereka, atau mengatakan riwayat daripada mereka itu muktabar. Meskipun Syiah memberi penghormatan kepada mereka, ini bukanlah alasan untuk menutup mata dan memuktabarkan riwayat daripada sahabat.” Beliau menambah, tidak seperti fitnah yang tersebar luas, Syiah juga mengasihi mereka namun sebahagian pembohongan menuduh syiah mengkafirkan sahabat.”

“Kekafiran dan keadilan adalah dua masalah entiti yang berbeza dan tidak boleh kedua-duanya dicampur adukkan. Pada pandangan Syiah dikalangan sahabat dari mereka itu ada yang bertaqwa dan berlaku adil, namun sebilangan daripada mereka ada juga bersikap tidak adil. Tidak adil dan kafir sangat jauh bezanya.”

“Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as). Oleh itu hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.” tambah beliau.

Berkenaan riwayat-riwayat Ahlusunnah seperti di dalam Sahih Bukhari beliau mengatakan, “Dalam kitab Sahih Bukhari sebahagian riwayat menunjukkan kemurtadan para sahabat. Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam. Oleh itu barangsiapa yang membuat tuduhan liar terhadap Syiah, mereka itu dikira tidak berpelajaran.”

Merujuk kepada beberapa peristiwa bersejarah tentang ketidak adilan sebahagian para sahabat, ulama tafsir ini menjelaskan, “Sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi beberapa kali mengingkari baginda dan banyak ayat telah turun untuk memberi hidayat dan menghalang mereka dari kesesatan dan kefasikan yang mana teladan itu dapat disaksikan dalam surah al-Hasyr.”

Ayatullah Subhani menegaskan, “Sebahagian khutbah Nabi dan peperangan setelah wafat baginda seperti perang Jamal, Nahrawan dan….. perkara ini membuktikan sebahagian para sahabat terjebak seperti apa yang dirisaukan baginda dan gugurlah keadilan dari mereka itu.”

Menurut beliau lagi, “Allah (swt) mendifinisikan sifat dan ciri-ciri para sahabat di dalam berbagai ayat, namun jelas sekali definisi itu tidaklah meliputi semua sahabat namun kebanyakan daripada mereka termasuk di dalamnya.”

“Maksud ayat-ayat seperti ini ialah sahabat hakiki yang memiliki sifat dan personaliti seperti ini sahaja, bukan bermaksud pakaian keadilan dan kesucian dibusanakan ke tubuh semua sahabat.” menurut beliau lagi.

Imam Sayyed Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendeiawan Ahsa menyusul penghinaan-penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji mengaku bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri Nabi, Aisyah.

Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayyid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mun’min Aisyah.”

Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “ diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangakain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh “ Yasir al-Habib” terhadap Siti Aisyah.

Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

Berikut teks bahasa Arab fatwa tersebut:

نص الاستفتاء:

بسم الله الرحمن الرحيم

سماحة آية الله العظمى السيد علي الخامنئي الحسيني دام ظله الوارف
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ،،

تمر الامة الاسلامية بأزمة منهج يؤدي الى اثارت الفتن بين ابناء المذاهب الاسلامية ، وعدم رعا ية الأولويات لوحدة صف المسلمين ، مما يكون منشا لفتن داخلية وتشتيت الجهد الاسلامي في المسائل الحساسة والمصيرية ، ويؤدي الى صرف النظر عن الانجازات التي تحققت على يد ابناء الامة الاسلامية في فلسطين ولبنان والعراق وتركيا وايران والدول الاسلامية ، ومن افرازات هذا المنهج المتطرف طرح ما يوجب الاساءة الى رموز ومقدسات اتباع الطائفة السنية الكريمة بصورة متعمدة ومكررة .

فما هو رأي سماحتكم في ما يطرح في بعض وسائل الاعلام من فضائيات وانترنت من قبل بعض المنتسبين الى العلم من اهانة صريحة وتحقير بكلمات بذيئة ومسيئة لزوج الرسول صلى الله عليه واله ام المؤمنين السيدة عائشة واتهامها بما يخل بالشرف والكرامة لأزواج النبي امهات المؤمنين رضوان الله تعالى عليهن.

لذا نرجو من سماحتكم التكرم ببيان الموقف الشرعي بوضوح لما سببته الاثارات المسيئة من اضطراب وسط المجتمع الاسلامي وخلق حالة من التوتر النفسي بين المسلمين من اتباع مدرسة أهل البيت عليهم السلام وسائر المسلمين من المذاهب الاسلامية ، علما ان هذه الاساءات استغلت وبصورة منهجية من بعض المغرضين ومثيري الفتن في بعض الفضائيات والانترنت لتشويش وارباك الساحة الاسلامية واثارة الفتنة بين المسلمين .

ختاما دمتم عزا وذخرا للاسلام والمسلمين .

التوقيع

جمع من علماء ومثقفي الاحساء4 / شوال / 1431هـــــ

جواب الإمام الخامنئي:

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

يحرم النيل من رموز إخواننا السنة فضلاً عن اتهام زوج النبي (صلى الله عليه وآله) بما يخل بشرفها بل هذا الأمر ممتنع على نساء الأنبياء وخصوصاً سيدهم الرسول الأعظم (صلّى الله عليه وآله).

موفقين لكل خير

Sumber:
http://abna.ir/data.asp?lang=2&id=204925
http://www.facebook.com/notes/thoha-bagir/pandangan-resmi-ulama-ulama-panutan-syiah-itsna-asyariyah-perihal-para-sahabat-d/157610870926093

Apakah itu mushaf Fathimah?

24 Mar

Mushaf Fatimah merupakan sebuah kitab yang ditulis oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib (as) daripada kata-kata Jibrail yang mengandungi senarai peristiwa-peristiwa akan datang sehingga hari kiamat dan ia tidak terdapat perkara-perkara halal dan haram.

Persoalan Mushaf Fatimah dapat dilihat dengan jelas dalam dua riwayat iaitu:

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ عُثْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) يَقُولُ تَظْهَرُ الزَّنَادِقَةُ فِي سَنَةِ ثَمَانٍ وَ عِشْرِينَ وَ مِائَةٍ وَ ذَلِكَ أَنِّي نَظَرْتُ فِي مُصْحَفِ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمَّا قَبَضَ نَبِيَّهُ (صلي الله عليه وآله وسلم ) دَخَلَ عَلَى فَاطِمَةَ (عليها السلام) مِنْ وَفَاتِهِ مِنَ الْحُزْنِ مَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ فَأَرْسَلَ اللَّهُ إِلَيْهَا مَلَكاً يُسَلِّي غَمَّهَا وَ يُحَدِّثُهَا فَشَكَتْ ذَلِكَ إِلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ (عليه السلام) فَقَالَ إِذَا أَحْسَسْتِ بِذَلِكِ وَ سَمِعْتِ الصَّوْتَ قُولِي لِي فَأَعْلَمَتْهُ بِذَلِكَ فَجَعَلَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ (عليه السلام) يَكْتُبُ كُلَّ مَا سَمِعَ حَتَّى أَثْبَتَ مِنْ ذَلِكَ مُصْحَفاً قَالَ ثُمَّ قَالَ أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيهِ شَيْ‏ءٌ مِنَ الْحَلَالَ وَ الْحَرَامِ وَ لَكِنْ فِيهِ عِلْمُ مَا يَكُون‏ .

الكافي ، ج‏1 ،  ص: 240 .

Hammad bin Uthman berkata: Saya mendengar daripada Imam Shadiq (as) mengatakan: Dalam tahun seratus dua puluh lapan akan muncul orang-orang Zindiq. Saya melihat perkara ini di dalam Mushaf Fatimah (as). Saya (Hammad) bertanya: Apakah itu Mushaf Fatimah? Beliau berkata: Kewafatan Rasulullah (saw) menyebabkan Fatimah (as) sangat berdukacita dan kesedihan itu hanya Allah Azzawajalla sahaja yang mengetahuinya. Oleh kerana itu Allah mengutuskan satu malaikat kepada beliau untuk menghiburkannya supaya kesedihan yang menyelubungi beliau tersingkir. Maka beliau melaporkan perkara itu kepada Ali bin Abi Talib (as) dan Ali (as) berkata: Kabarkan kepadaku setiap kali dikau merasakan ia datang dan mendengar suaranya. Maka Fatimah (as) memaklumkan kepada Ali (as). Maka Ali (as) menulis setiap apa yang didengarinya sehingga menjadi sebuah kitab yang lengkap”. Kemudian Imam Sodiq (as) berkata: Namun kitab ini di dalamnya tidak ada sesuatu yang halal atau haram, tetapi didalamnya mengandungi pengetahuan tentang peristiwa akan datang. – al-Kafi, jil 1 halaman 240.

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنِ ابْنِ رِئَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ قَالَ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَنِ الْجَفْرِ … قَالَ فَمُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ فَسَكَتَ طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَبْحَثُونَ عَمَّا تُرِيدُونَ وَ عَمَّا لَا تُرِيدُونَ إِنَّ فَاطِمَةَ مَكَثَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) خَمْسَةً وَ سَبْعِينَ يَوْماً وَ كَانَ دَخَلَهَا حُزْنٌ شَدِيدٌ عَلَى أَبِيهَا وَ كَانَ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) يَأْتِيهَا فَيُحْسِنُ عَزَاءَهَا عَلَى أَبِيهَا وَ يُطَيِّبُ نَفْسَهَا وَ يُخْبِرُهَا عَنْ أَبِيهَا وَ مَكَانِهِ وَ يُخْبِرُهَا بِمَا يَكُونُ بَعْدَهَا فِي ذُرِّيَّتِهَا وَ كَانَ عَلِيٌّ (عليه السلام) يَكْتُبُ ذَلِكَ فَهَذَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام .

الكافي، ج‏1، ص: 241 .

Abu Ubaidah mengakan: Sebahagian sahabat kami bertanya kepada Aba Abdillah (as) beberapa soalan… Apakah itu Mushaf Fatimah? beliau berdiam diri seketika kemudian berkata: Sesungguhnya anda semua membahaskan tentang apa yang diingini dan apa yang tidak diingini, Fatimah tinggal di dunia ini selama tujuh puluh lima hari setelah pemergian Rasulullah (saw) dan sangat berdukacita atas perpisahan dengan ayahnya. Jibrail (as) datang kepadanya dan mengucapkan takziah atas kematian ayahnya dan menghiburkan sehingga berkurang kedukaan beliau, ia memberi kabar tentang ayahnya dan tempat baginda, ia menceritakan apa yang akan berlaku tentang keturunan beliau, Ali bin Abi Talib menulisnya dan inilah yang dinamakan Mushaf Fatimah (as). – Al-Kafi jil 1 halaman 241.

Kebarangkalian adanya dialog malaikat dengan orang yang bukan daripada kalangan nabi.

Ahlusunnah mempertikaikan perkara ini, bagaimana mungkin insan yang bukan daripada para nabi boleh berbicara dengan malaikat? dan apakah perkara ini tidak mempertikaikan perutusan nabi yang terakhir?

Hakikatnya Ahlusunnah sendiri telah memberikan jawapannya. Alusi seorang ahli tafsir besar Ahlusunnah telah menukilkan sebuah riwayat dan mengulas perkara ini:

والأخبار طافحة برؤية الصحابة للملك وسماعهم كلامه ، وكفى دليلا لما نحن فيه قوله سبحانه : * ( إِنَّ الَّذينَ قالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخافُوا وَ لا تَحْزَنُوا وَ أَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتي‏ كُنْتُمْ تُوعَدُون‏ ) * ( فصلت : 30 ) الآية فإن فيها نزول الملك على غير الأنبياء في الدنيا وتكليمه إياه ولم يقل أحد من الناس : إن ذلك يستدعي النبوة

تفسير الآلوسي – الآلوسي – ج 22 – ص 40 .

Banyak riwayat menyatakan para sahabat melihat malaikat dan mendengar perbicaraannya. Untuk membuktikan perkara ini cukuplah dengan firman Allah (swt):

( إِنَّ الَّذينَ قالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخافُوا وَ لا تَحْزَنُوا وَ أَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتي‏ كُنْتُمْ تُوعَدُون‏ ) * ( فصلت : 30 )

[30] Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa “Janganlah kamu bimbang dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu.

Dalam ayat ini dinyatakan malaikat turun ke dunia kepada orang yang bukan daripada kalangan para nabi, tidak ada siapa pun yang mengatakan perkara ini hanyalah kepada nabi sahaja. – Tafsir al-Alusi jil 22 halaman 40.

Bersalam dengan malaikat

Banyak riwayat dalam sumber Ahlusunnah mengatakan jikalau Allah berkehendak, seseorang itu boleh berkomunikasi dengan malaikat dan berbicara dengan mereka asalkan ia tidak melakukan hal-hal yang haram dan melaksanakan amalan-amalan wajib.

Muslim Nisyaburi menukilkan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ… .

صحيح مسلم – مسلم النيسابوري – ج 8 – ص 95 .

Rasulullah (saw) bersabda: Demi jiwaku ditangannya, jikalau kamu berterusan dengan apa yang kamu lakukan sekarang di sisiku, malaikat akan bersalaman dengan kamu.

Riwayat ini juga boleh didapati dalam Sunan Ibnu Majah, jil 2 halaman 415-416, Sahih al-Jami’ al-Saghir jil 2 halaman 931 dan 1190, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah jil 4 halaman 606.

Muslim Nisyaburi sekali lagi menulis:

لو كانت تكون قلوبكم كما تكون عند الذكر لصافحتكم الملائكة حتى تسلم عليكم في الطرق .

صحيح مسلم – مسلم النيسابوري – ج 8 – ص 95 .

Jika hati-hati kalian tetap sama sepertimana ketika mengingati tuhan, malaikat akan bersalaman denganmu dan akan memberikan salam kepadamu dalam perjalanan.

 

Kedua riwayat ini menerangkan jikalau manusia menjaga ketaqwaan kepada Allah dan melaksanakan perintahNya, mereka boleh berhubungan dengan malaikat dan berdialog dengannya. Fatimah Zahra selaku personaliti yang disucikan dalam ayat Tathir dan penghulu wanita di syurga sudah tentu mempunyai martabat seperti ini.

Dialog Sayidah Maryam dengan malaikat:

Al-Quran secara terus terang menyatakan bahawa Sayidah Maryam (as) berbicara dengan malaikat sedangkan beliau bukanlah dari kalangan para nabi. Allah (swt) dalam surah Maryam ayat 16-21 menyatakan:

وَ اذْكُرْ فىِ الْكِتَابِ مَرْيمَ‏َ إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكاَنًا شَرْقِيًّا . فَاتخََّذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا . قَالَتْ إِنىّ‏ِ أَعُوذُ بِالرَّحْمَانِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا . قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا . قَالَتْ أَنىَ‏ يَكُونُ لىِ غُلَامٌ وَ لَمْ يَمْسَسْنىِ بَشَرٌ وَ لَمْ أَكُ بَغِيًّا . قَالَ كَذَالِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلىَ‏َّ هَينِ‏ٌّ  وَ لِنَجْعَلَهُ ءَايَةً لِّلنَّاسِ وَ رَحْمَةً مِّنَّا  وَ كاَنَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا .

[16] Dan bacakanlah (wahai Muhammad) di dalam Kitab Al-Quran ini perihal Maryam, ketika dia memencilkan diri dari keluarganya di sebuah tempat sebelah timur.
[17] Kemudian Maryam membuat dinding untuk melindungi dirinya dari mereka maka Kami hantarkan kepadanya: Roh dari kami lalu ia menyamar diri kepadanya sebagai seorang lelaki yang sempurna bentuk kejadiannya.
[18] Maryam berkata: Sesungguhnya aku berlindung kepada (Allah) Ar-Rahman daripada (gangguan) mu kalaulah engkau seorang yang bertaqwa.
[19] Ia berkata: “Sesungguhnya aku pesuruh Tuhanmu, untuk menyebabkanmu dikurniakan seorang anak yang suci”.
[20] Maryam bertanya (dengan cemas): Bagaimanakah aku akan beroleh seorang anak lelaki, padahal aku tidak pernah disentuh oleh seorang lelaki pun, dan aku pula bukan perempuan jahat?”
[21] Ia menjawab: “Demikianlah keadaannya tak usahlah dihairankan; Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagiKu; dan Kami hendak menjadikan pemberian anak itu sebagai satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami) untuk umat manusia dan sebagai satu rahmat dari Kami; dan hal itu adalah satu perkara yang telah ditetapkan berlakunya.

Oleh kerana Sayidah Maryam (as) dapat berkomunikasi dengan Malaikat, maka sudah tentu Fatimah Zahra (as) selaku penghulu seluruh wanita di Syurga juga dapat mendengar bicara malaikat.

Salam malaikat kepada Imran bin Hushain:

Terdapat riwayat Ahlusunnah yang menyatakan malaikat memberi salam kepada sahabat nabi, bersalaman dengannya dan sahabat tersebut juga dapat melihat malaikat. Muslim Nisyaburi dalam Sahihnya menukilkan daripada Imran bin Hushain:

وَقَدْ كَانَ يُسَلَّمُ عَلَيَّ….

صحيح مسلم – مسلم النيسابوري – ج 4 – ص 48 .

Malaikat memberi salam kepadaku sehingga…. – Muslim Nisyaburi, Sahih Muslim jil 4 halaman 48.

Ibnu Hajar al-Asqalani menerjemahkan tentang Imran bin Hushain sebagai:

عمران بن حصين … وكانت الملائكة تصافحه … .

تهذيب التهذيب – ابن حجر – ج 8 – ص 112.

Imran bin Hushain…. malaikat bersalaman dengannya…. Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib jil 8, halaman 112.

Zahabi juga menulis tentangnya:

عمران بن حصين … وكان ممن يسلم عليه الملائكة .

تذكرة الحفاظ – الذهبي – ج 1 – ص 29 .

Imran bin Husain ialah daripada orang yang diberi salam ke atasnya oleh malaikat – Al-Zahabi, jilid 1 halaman 29.

Dengan ini jelaslah beberapa orang sahabat telah melihat, bersalaman dan berkomunikasi dengan malaikat menurut hadis. Jikalau individu seperti Imran bin Hushain dapat mendengar dan melihat malaikat, apakah sebabnya golongan Ahlusunnah ingin mengingkari Sayidah Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Talib dapat mendengar perkataan malaikat?

Huzaifah mendengar suara malaikat:

Banyak sekali riwayat dalam kitab Ahlusunnah yang menyatakan beberapa orang sahabat mendengar kata-kata malaikat dan mereka pun berbicara dengannya. Ahmad bin Hanbal menulis dalam musnadnya:

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانٍِ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَيْنَمَا أَنَا أُصَلِّي إِذْ سَمِعْتُ مُتَكَلِّمًا يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَلَكَ الْمُلْكُ كُلُّهُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ كُلُّهُ إِلَيْكَ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ عَلَانِيَتُهُ وَسِرُّهُ فَأَهْلٌ أَنْ تُحْمَدَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جَمِيعَ مَا مَضَى مِنْ ذَنْبِي وَاعْصِمْنِي فِيمَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِي وَارْزُقْنِي عَمَلًا زَاكِيًا تَرْضَى بِهِ عَنِّي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاكَ مَلَكٌ أَتَاكَ يُعَلِّمُكَ تَحْمِيدَ رَبِّكَ .

مسند احمد – الإمام احمد بن حنبل – ج 5 – ص 395 – 396 .

Telah dinukilkan pada suatu hari Huzaifah datang kepada Rasulullah (saw) dan berkata: Ketika saya solat, saya telah mendengar suara orang berbicara:

اللهم لك الحمد … .

Rasulullah (saw) bersabda: Itu ialah malaikat yang datang kepadamu dan mengajarmu bagaimana cara memuji Allah. Musnad Ahmad bin Hanbal jil 5 halaman 395-396.

Ubai bin Ka’ab berkomunikasi dengan malaikat:

Alusi, seorang ahli tafsir Ahlusunnah yang masyhur mengatakan dalam kitab tafsirnya Ubai bin Ka’ab mendengar kata-kata Malaikat:

وأخرج ابن أبي الدنيا في كتاب الذكر عن أنس قال : قال أبي بن كعب لأدخلن المسجد فلأصلين ولأحمدن الله تعالى بمحامد لم يحمده بها أحد فلما صلى وجلس ليحمد الله تعالى ويثنى عليه إذا هو بصوت عال من خلف يقول : اللهم لك الحمد كله ولك الملك كله وبيدك الخير كله وإليك يرجع الأمر كله علانيته وسره لك الحمد إنك على كل شيء قدير اغفر لي ما مضى من ذنوبي واعصمني فيما بقي من عمري وارزقني أعمالا زاكية ترضى بها عني وتب علي فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقص عليه فقال : ذاك جبريل عليه السلام .

تفسير الآلوسي – الآلوسي – ج 22 – ص 40 .

Umar bin al-Khattab mendengar suara Jibrail:

Menurut kebanyakan ulama Ahlusunnah, salah satu kelebihan Umar bin al-Khattab ialah mendengar azan daripada Jibrail (as). Harith bin Abi Usamah dalam musnadnya menulis:

أول من أذن بالصلاة جبريل في سماء الدنيا فسمعه عمر وبلال فسبق عمر بلالا فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم ثم جاء بلال فقال له سبقك بها عمر .

بغية الباحث عن زوائد مسند الحارث – الحارث بن أبي أسامة – ص 51 و فتح الباري – ابن حجر – ج 2 – ص 63 و عمدة القاري – العيني – ج 5 – ص 107 و تنوير الحلك – جلال الدين السيوطي – ص 23 و السيرة الحلبية – الحلبي – ج 2 – ص 302 و …

Yang mula-mula melaungkan azan di langit dunia ialah Jibrail, maka didengari oleh Umar dan Bilal. Umar mendahului Bilal memberitahu kepada Rasulullah (saw) kemudian barulah Bilal datang menyusul, maka Rasulullah (saw) berkata kepadanya: Umar telah mendahuluimu.

Menarik perhatian di sini, Ibnu Hajar Asqalani tidak mempertikaikan hadis ini setelah menukilkannya. Hakikatnya beliau hanya menutupkan mata dan telinganya ketika membahaskan kelebihan Umar, beliau menerima apa saja yang telah dinukilkan untuk Umar.

Umar bin al-Khattab boleh mendengar suara Jibrail, maka apakah yang menghalang Fatimah Az-Zahra dan Amirul Muminin dari mendengar suara malaikat?

Umar bin Khattab berdialog dengan malaikat:

Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Sahihnya menulis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُونَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ فَإِنْ يَكُنْ مِنْ أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَعُمَر .

صحيح البخاري – البخاري – ج 4 – ص 200 .

Abu Hurairah berkata, Nabi (saw) bersabda: Sesungguhnya sebelum daripada kamu ada pemuda-pemuda daripada golongan Bani Israel yang berbicara dengan malaikat, mereka ini bukanlah nabi. Jikalau ada yang seperti mereka ini di kalangan umatku, niscaya orang itu ialah Umar bin al-Khattab.

Qasthalani, ulama besar Ahlusunnah mensyarahkan hadis ini sebagai berikut:

ليس قوله ” فإن يكن ” للترديد بل للتأكيد كقولك : إن يكن لي صديق ففلان . إذ المراد اختصاصه بكمال الصداقة لا نفي الأصدقاء ، وإذا ثبت أن هذا وجد في غير الأمة المفضولة فوجوده في هذه الأمة الفاضلة أحرى .

إرشاد الساري شرح صحيح البخاري ، ج6 ، ص 99 .

Perkataan baginda: ” فإن يكن ” tidaklah bermaksud menolak (Iaitu Umar tidak berbicara dengan malaikat), bahkan ia adalah perkataan untuk menguatkan (Ia benar-benar begitu). Seperti mana kata baginda kepada seseorang: “Jikalaulah saya mempunyai seorang sahabat, maka ia adalah si fulan”. Maksud perkataan ‘si fulan’ di sini ialah: “ini adalah sahabat terbaik saya”, bukannya “saya tidak mempunyai seorang sahabat”. – Irsyad al-Sari Syarh Sahih Bukhari, jil 6 halaman 99.

Ibnu Asakir dalam Tarikh Madinah dan Muttaqi Hindi dalam Kanzul Ummal menulis:

قال الشعبي إن لكل أمة محدثا وإن محدث هذه الأمة عمر بن الخطاب .

تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر – ج 44 – ص 95 و كنز العمال – المتقي الهندي – ج 12 – ص 600 .

Sya’bi telah berkata: Sesungguhnya setiap umat mempunyai Muhaddith (orang yang berbicara dengan malaikat), dan Muhaddith umat ini ialah Umar bin al-Khattab. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasqi jil 44 halaman 95 dan al-Muttaqi al-Hindi, Kanzul Ummal jil 12 halaman 600.

Umar bin al-Khattab dikatakan boleh berbicara dengan malaikat meskipun ia belum masuk Islam dan masih berada di dalam kelompok musyrikin sehingga tahun ke delapan kerasulan Muhammad (saw), mengapakah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib dan Fatimah Zahra (as) tidak boleh mendengar perkataan malaikat? apa lagi mereka berdua tidak pernah mensyirikkan Allah walau pun seketika.

 

 

74493_510820515634989_699570634_n

 

 

Sumber : http://www.abna.ir/data.asp?lang=15&Id=213698

Syi'ah Menjawab

Syi'ah mencintai ikhwan Ahlussunnah Wal Jama'ah, Syi'ah mencintai semua makhluk

Liyahnita's Blog

Just another WordPress.com site

Semoga Hidayah-Nya Selalu Menyertai Kita

Mari Bersama Saling Berbagi

Komunitas Ahlilbait Lombok

Allahumma Shalli 'Ala Muhammad Wa Aali Muhammad Wa Ajjil Farajahum

bisnismandiri313

Bekerjalah Untuk Duniamu Seolah Olah Engkau Hidup Selamanya

Blog Ibnu Azmi

99.9% dalil aqli

Kerana DIA...

ALLAH Ta'ala berfirman: "Dan tidak AKU ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKU." (Surah Adz-Dzaariyaat, 51:56)

almuhaddis

Rujukilah Perawi Hadis- Imam al Mahdi(as)

irfanotes

Jejak Langkah Perjalanan Hidup

The_Friday_Man

belajar sekarang, karena tidak ada kata terlambat...

sebopo.wordpress.com/

Graphic Design , News & Fun

sehatalamiyah

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site