Arsip | Uncategorized RSS feed for this section

18 pintu terampuninya dosa

31 Mar

Allah Swt berfirman : “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah [5] ayat 74)

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Zumar [39] ayat 53)

  1. BERTAUBAT Al-Quran yang suci mengatakan :”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3] ayat 135) (QS Al-Maidah [5] ayat 39)
  2. BERBAKTI DAN MENDOAKAN KEDUA ORANGTUA Al-Quran yang mulia mengatakan : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS Al-Ahqaf [46] : 15-16)
  3. MENGIKUTI PETUNJUK, DAN WASIAT RASULULLAH SAW SERTA MEMULIAKANNYA Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] ayat 31) (QS Al-Hujurat [49] ayat 3)
  4. INFAQ Allah Swt berfirman : “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Taghabun [64] ayat 17)
  5. BALASAN DI DUNIA Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari Qiyamat.” (Bihar al-Anwar 81:177)
  6. SABAR ATAS UJIAN HIDUP Al-Quran suci mengatakan : “..kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud [11] ayat 11) Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min itu apabila melakukan dosa maka diujilah dia dengan kefakiran maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya. Atau diuji ia dengan penyakit, maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya atau ia diuji dengan rasa ketakutan dari Sultan (raja) yang menuntutnya, maka hal itupun menjadi penghapus dosanya atau ia dicoba sehingga ia menemui kematiannya maka ketika ia berjumpa dengan Allah maka tidak ada lagi dosa-dosanya dan Allah memasukkannya ke dalam surga.” (Bihar al-Anwar 81 : 199)
  7. MUSIBAH Rasulullah saww bersabda, “Tidaklah menimpa musibah kepada seorang mu’min laki-laki dan perempuan atas dirinya dan hartanya serta anaknya sehingga ketika ia menjumpai Allah maka tidak ada lagi kesalahan padanya.”(Bihar al-Anwar 67 : 236)
  8. SIKSA KUBUR DI ALAM BARZAKH Imam Ali ar-Ridha as berkata, “[Di dalam firman-Nya : “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS Al-Rahman [55] ayat 39)], “Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki keyakinan yang benar lalu dia berbuat dosa dan dia tidak sempat bertaubat di dunia, maka diazablah ia di Alam Barzakh sampai ketika ia di hari Qiyamat tidak ada lagi dosanya dan tidak pula ia ditanya tentang itu” (Tafsir Nur ats-Tsaqalain 5 : 155)
  9. PENYAKIT Imam Ali ar-Ridha as berkata, “Sakit bagi orang mu’min merupakan penyucian (atas dosanya) dan juga rahmat. Tetapi bagi orang yang ingkar, sakit adalah ’azab dan laknat dan sesungguhnya penyakit bagi seorang mu’min adalah penghapus dosa.” (Bihar al-Anwar 81 : 183) Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya penyakit itu membersihkan jasad dari dosa-dosa sebagaimana alat peniup pandai besi membersihkan karat dari besi.” (Bihar al-Anwar 81 : 197) Ditanyakan kepada Amirul Mu’minin as tentang penyakit yang menimpa seorang bayi, beliau menjawab, “Itu merupakan penghapus dosa (kafarat) bagi orang tuanya.” (Bihar al-Anwar 81 : 186) Allah Ta’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), “Ahli taat-Ku dalam jamuan-Ku, dan ahli syukur-Ku dalam limpahan-Ku, dan ahli dzikir-Ku dalam nikmat-Ku, tapi ahli maksiat kepada-Ku tidak ada bagian untuk mereka dari rahmat-Ku. Tetapi jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasihnya, dan apabila mereka berdoa maka Aku akan jawab doanya dan apabila mereka sakit, Aku yang akan menyembuhkannya dan Aku akan mengobati mereka dengan ujian dan musibah untuk membersihkan mereka dari dosa-dosa dan cela.” (Bihar al-Anwar 77 : 42)
  10. KESEDIHAN Rasulullah saww bersabda, “Apabila seorang mu’min telah banyak dosa-dosanya dan ia belum mengamalkan apa-apa yang dapat menghapus dosa-dosanya maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan demi menghapus dosa-dosanya.” (Bihar al-Anwar 73 : 157) Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kesedihan itu menghapus dosa orang muslim.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)
  11. KESUSAHAN DI DALAM MENCARI PENGHIDUPAN (NAFKAH) Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya ada dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak juga dengan sedekah.”, maka ditanyakan kepada Nabi saww, “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?”, jawab Nabi, “Kesusahan di dalam mencari penghidupan.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)
  12. TAQWA, KEJUJURAN, PERBUATAN BAIK, DAN AMAL SHALIH Allah SwT berfirman, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Al-Thalaq [65] ayat 5) “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS Hud [11] ayat 114) (QS Al-Ahzab [33] ayat 35) (QS Al-Ahzab [33] 70-71) Lihat ayat-ayat lainnya : QS 34:4; 35:7; 36:11, 67:12
  13. AKHLAQ YANG BAIK Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlaq yang baik itu menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana matahari mencairkan es dan sesungguhnya akhlaq yang buruk itu merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.” (Bihar al-Anwar 71 : 356) Rasulullah saww bersabda,“4 hal yang dapat menghapus dosa dan Allah gantikan dengan kebaikan : 1. Shadaqah, 2. Malu, 3. Akhlaq yang baik, 4. Rasa syukur.” (Bihar al-Anwar 71 : 332)
  14. MEMPERBANYAK SUJUD Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata,“Wahai Rasulullah, telah banyak dosa-dosaku tapi sedikit amalku,” maka Rasul saww bersabda, “Perbanyaklah sujud karena sujud itu menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan dari pohon” (Bihar al-Anwar 85 : 162)
  15. HAJJI DAN UMRAH Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saww telah bersabda, ”Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang ada di antara keduanya dan hajji yang diterima (Allah) balasannya adalah surga dan ada suatu dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat diampuni kecuali dengan wukuf di ‘Arafah.” (Bihar al-Anwar 99 : 50)
  16. BERDOA, BERISTIGHFAR DAN BERZIKIR Al-Quran yang mulia mengatakan : “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Nisa [4] ayat 110)
  17. BANYAK MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Barangsiapa yang belum mampu untuk menghapus dosa-dosanya maka perbanyaklah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena yang demikian itu dapat merontokkan dosa serontok-rontoknya” (Bihar al-Anwar 94 : 47)
  18. HIJRAH, BERJIHAD DI JALAN ALLAH & MENAMPUNG KAUM MUHAJIRIN *] Al-Quran yang mulia mengatakan :”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3] ayat 195) (QS Al-Anfal [8] ayat 74) Lihat juga ayat-ayat : QS Al-Shaff [61] : 11-12;
  19. KEMATIAN Rasulullah saww bersabda, “Kematian dapat menjadi penebus dosa-dosa orang-orang beriman.” (Amali lil-Mufid, h. 166) “Tidak ada do’a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang ingkar.” (QS Ali Imran [3] ayat 147) (QS Ali Imran [3] ayat 193) Amin ya Ilahi Rabbi…

Dosa adalah penyebab kesulitan hidup

31 Mar

Allah SWT berfirman dalam hadis Qudsi: “Wahai hamba-Ku sayang! Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sesungguhnya Aku menginginkan kebaikan bagi setiap yang Aku sayangi. Tidak akan Aku matikan ia sebelum Aku mengampuni dosa-dosanya dengan penyakit, kesusahan, kerugian, atau kehilangan anggota keluarga. Dan jika masih ada dosanya yang tersisa, Aku akan beratkan sakratul mautnya. Hal ini Aku lakukan agar ia menjumpai-Ku dalam keadaan suci seperti bayi”. (Jami’us Sa’adat)

 

Dosa adalah penyebab kesulitan hidup

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan siapa yang mengerjakan satu dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakan satu dosa itu untuk (kerugian) dirinya sendiri.” (An-Nisaa : 111)

Banyak orang merasa bebas berbuat dosa, sebab dosa-dosa itu akibatnya tidak terlihat secara langsung. Jika dosa serupa penyakit yang langsung terasa di tubuh, mungkin banyak orang akan berpikir ulang sebelum berbuat dosa. Dampak yang tidak tampak ini membuat banyak orang merasa ringan melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Padahal, setiap dosa berdampak buruk terhadap pelakunya di dunia dan akhirat. Jika kadar dosa seseorang masih ringan, ia masih dihapuskan dengan istigfar. Tetapi jika kadar dosa itu sudah mematikan hati, maka balasan bagi pelakunya ialah bencana yang sangat berat. Contoh manusia yang menerima hukuman berat akibat dosa-dosanya ialah Bani Israil.

Dalam Al-Qur’an diceritakan,

“Lalu ditimpakan kepada mereka kenistaan dan kehinaan, serta meraka mendapatkan memurkaan Allah. Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak. Dan yang demikian itu (terjadi) karena mereka selalu durhaka dan melampaui batas.” (Al-Baqarah : 61)

Ayat ini memberikan penjelasan ganda tentang kesalahan-kesalahan Bani Isaril. Mula-mula dijelaskan bahwa mereka telah mengingkari ayat-ayat Allah, lalu mereka membunuh secara zhalim para Nabi yang diturunkan ke tengah-tengah mereka. Dua kesalahan ini merupakan contoh dosa besar Bani Israil dalam sejarahnya. Kemudian disebutkan kesalahan merekan secara umum, yait selalu berbuat maksiat dan melampaui batas. Akibatnya, mereka tertimpa siksa yang sangat berat, yaitu kenistaan, kelemahan, dan kemurkaan Allah, Na’udzubillah min dzalik.

Jika perpuatan dosa dilakukan oleh satu orang, hal itu membuatnya gelisah. Lalu bagaimana jika dosa-dosa tersebut dilakukan oleh puluhan, ratusan, ribuan, hingga jutaan manusia? Jika demikian keadaanya, maka kehidupan suatu kaum (bangsa) akan diliputi dengan kesusahan- kesusahan. Apa yang selama ini menimpa bangsa Indonesia berupa bencana alam dan bencana kemanusiaan, semua itu merupakan peringatan besar dari Allah, jika kita mau merenunginya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena perbuatannya.” (Al-A’raf : 96)

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Allah Swt berfirman: Terkadang seorang hamba memohon sebuah hajat kepada-Ku dan Aku pun memenuhinya, namun ia berbuat dosa, Aku pun katakan kepada para malaikat: hamba-Ku ini telah membuat-Ku murka karena telah melakukan dosa, dan ia telah membuat dirinya berhak untuk tidak memperoleh nikmat, kemudian dengan kehendaknya sendiri ia tidak akan memperoleh dari-Ku, kecuali ia kembali menghambakan diri kepada-Ku”.

Demikian pula Imam Ali As bersabda, Demi Allah Swt, tidak ada satu pun nikmat yang dicabut dari manusia, kecuali dikarenakan dosa mereka.”

Pada beberapa penggalan kalimat pertama doa Kumail, boleh jadi Imam Ali As mencoba menyinggung kepada masalah ini, dengan pengulangan kalimat ini Imam Ali As hendak mengatakan bahwa wahai Tuhan-ku ampunilah setiap dosa yang dapat menjadi sebab turunnya bala bencana, tidak terijabahnya doa, dan lain sebagainya dariku, sebagaimana di akhir kalimat-kalimat ini Imam Ali as berkata lirih, Maafkanlah daku atas setiap dosa dan kejahatan yang telah kulakukan dan setiap kesalahan dan kelalaian yang lahir dari diriku.

Kaitan antara bala bencana dan beragam musibah dengan dosa dan maksiat, digambarkan Al Qur’an sebagai akibat dari dosa yang dilakukan manusia. Al-Qur’an menyatakan, Setiap bala bencana dan musibah yang menimpa kalian, adalah disebabkan perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan dan banyak dari mereka itu telah dimaafkan oleh Allah Swt.” (Qs. Syura [42]:30)

Oleh karena itu, dari berbagai ajaran agama, baik dari ayat-ayat maupun riwayat-riwayat, dapat dipahami bahwa dosa memiliki peran penting dan pengaruh terhadap turunnya bala bencana sebagai perumpamaan, Imam Shadiq As bersabda: Kehidupan segala yang ada di laut bergantung kepada air hujan, ketiga hujan tidak turun maka seluruh apa yang ada di darat dan di laut akan binasa, dan ini akan terjadi ketika dosa-dosa telah melimpah.”

Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata: “Dosa-dosa yang merubah kenikmatan: menzalimi orang lain, merubah kebiasaan yang baik, berpura-pura melakukan kebajikan, mengingkari nikmat Allah, dan tidak bersyukur kepada-Nya. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah swt: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu bangsa sehingga mereka sendiri merubah apa yang ada pada diri
mereka” (Ar-Ra’d: 11). (Al-Wasail 16: 281).

Imam Ali Zainal Abidin (sa) menjelaskan faktor-faktor yang dapat mengurangi umur manusia. Dia mengatakan: “Dosa-dosa yang dapat mempercepat datangnya ajal ialah memutuskan silaturahim, sumpah palsu, ucapan bohong, zina, menutup jalan orang Mukmin, dan mengakui kepemimpinan yang tidak hak.” ((Maanil Akhbar,  271)
Istighfar dan taubah sebagai penghapus dampak buruk dari dosa
Shalat Istighfar adalah semacam shalat taubat. Manfaat shalat ini dapat menghilangkan kegelisahan dan keresahan dalam hati. Selain itu dapat membuka pintu dan peluang rizki yang tak terduga sebelumnya. Telah banyak kaum mukminin yang mempraktekkannya. Kita bisa praktekan shalat ini di tengah-tengah keluarga kita yang tentunya mendambakan kebahagian di dunia dan akhirat. Shalat ini diajarkan oleh Rasulullah saw dan keluarganya yang suci. Shalat ini bisa dilakukan di siang hari atau malam hari. Shalat ini dan caranya saya kutip dari kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga. Dalam kitab ini disebutkan:
“Jika Anda merasa sempit dalam kehidupan, dan sulit menemukan solusi dalam persoalan yang Anda hadapi, maka jangan tinggalkan shalat ini.”

Cara shalat ini: Lakukan shalat dua rakaat, dengan niat memohon ampunan Allah swt. Setiap rakaat sesudah surat Fatihah membaca surat Al-Qadar. Sesudah membaca surat Al-Qadar membaca Istighfar (15 kali), yaitu

اَسْـتَغْفِرُاللهَ
Astaghfirullâh

Aku mohon ampun kepada Allah

Bacaan Istighfar ini juga dibaca masing-masing (10 kali) pada setiap ruku’ (sesudah membaca tasbih), i’tidal, sujud (sesudah membaca tasbih), duduk di antara dua sujud, dan duduk untuk berdiri. Sehingga dalam dua rakaat jumlahnya 150 istighfar.

Selamat mencobanya, semoga kita dan keluarga kita dibahagiakan oleh Allah swt, dicurahkan karunia dan rahmat-Nya, dan dijaga dari yang tidak kita inginkan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Diriwayatkan bahwa Imam Shadiq as berkata: “Barangsiapa yang membaca istighfar setelah shalat Ashar sebanyak 70 kali, Alah akan mengampuni tujuh ratus dosa (yang pernah dilakukannya)”.

Inilah Syi’ah (1)

31 Mar

Sahabat Salman al-Farisi adalah satu di antara tokoh Islam yang dikenal sebagai intelektual berotak cemerlang dan berhati salju. Begitu tinggi kedudukan dan jasanya dalam sejarah perintisan Islam sehingga Nabi saw mengangkatnya sebagai anggota kehormatan dan bintang tamu keluarga beliau dengan sabdanya yang terkenal menjelang perang Khandaq (al-Ahzab), “Salman dari kami, Ahlulbait”.

 

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, lelaki non Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Persia ini bersama sejumlah sahabat senior seperti Zubair bin Awwan, Miqdad bin al-Aswad dan Ammar bin Yasir melawan arus politik yang dominan dengan menyatakan Ali sebagai pemimpin pengganti Nabi.

 

Sejak saat itu Salman dikenal sebagai pendukung dan pengikut paling setia menantu Nabi itu. Pada masa-masa kepemimpinan tiga Khalifah, ia menghabiskan waktu dengan menimba ilmu di rumah Ali yang dikenal sebagai ‘gerbang pintu ilmu Nabi’ itu dan melakukan kegiatan dakwah di daerah-daerah terpencil Jazirah.

 

Hal inilah yang membuat penasaran sebagian sahabat. Suatu saat sebagian murid Ali berembuk demi mencaritahu rahasia kedudukan tinggi Salman. Salah seorang diantara mereka ditunjuk untuk melakukan misi mengintai dan menandingi prestasi Salman, terutama dalam kegiatan shalat jamaah dan majlis taklik Ali bin Abi Thalib.

 

Ia pun memulai misinya pada hari pertama. Saat azan subuh berkumandang, dia segera bangun dari tidur dan bergegas menuju masjid dengan harapan menjadi orang pertama yang berada di shaf belakang Amirul-Mukminin.

 

Saat memasuki area halaman masjid, hati berbunga karena ia hanya melihat satu jenis jejak kaki. “Ini pasti jejak kaki Ali dan Salman belum datang,” gumamnya dalam hati.

 

Betapa terkejut hatinya saat matanya menumbuk sosok Salman yang sedang duduk bersila di belakang sang Imam yang sedang sibuk berzikir. Ia benar-benar tidak habis pikir dan merasa kecolongan. Ia pun bertekad mengulangi misinya dalam acara shalat jamaah subuh esok.

 

Pada hari kedua, ia pun gagal melakukan misinya karena lagi-lagi Salman mendahuluinya. Meski sedih, ia tetap optimis akan berhasil mendahului Salman pada subuh hari ketiga. Untuk itu ia bertekad untuk berjaga malam dan tidak membiarkan kantuk menghampiri matanya.

 

Pada hari ketiga, beberapa saat azan subuh menyapa telinga warga, ia bergegas menuju masjid. Dengan langkah cepat dan dengan perasaan penuh keberhasilan dalam hati, ia memasuki gerbang masjid. Hanya ada satu jenis jejak bersambung di area masjid.

 

Tak apa yang tertangkap oleh matanya membuat pusing dan tak benar-benar tak percaya. Salman telah berada di shaf belakang Ali bin Abi Thalib.

 

Seusai melaksanakan shalat, ia merapat ke Salman dan bertanya dengan nada berbisik, “Salman, selama tiga hari aku mengikuti shalat jamaah ini dengan harapan bisa menjadi orang kedua setelah Ali yang memasuki masjid. Anehnya, meski aku hanya menemukan satu jejak kaki Ali, aku gagal mendahuluimu.”

 

Salman hanya tersenyum ringan mendengar pengakuannya.

 

“Aku masih heran karena hanya menemukan satu jejak kaki. Apakah kau memang tidur di masjid ini sejak malam sehingga jejak kakimu tidak terlihat?” tanyanya penasaran.

 

“Oh tidak, sahabatku. Aku segara bangun dari tidur saat hidungku menangkap aroma wangi Ali melintas di depan rumahku,” jawabnya pelan.

 

“Lalu, mengapa hanya ada satu jejak kaki?” tanya lagi dengan nada lebih kerasa.

 

“Oh soal jejak kaki itu, aku memang sejak semula ingin mengukuti Ali secara sempurna, termasuk menginjakkan kakiku di jejak kaki beliau,” sahut salman tenang.

 

Ia nyaris pingsan mendengar jawaban Salman. Saat itu juga ia mengakui bahwa dirinya tidak akan bisa menandingi lelaki dari Persia itu. Ia sangat mengagumi konsistensi dan totalitas salman dalam cintanya kepada Ali bin Abi Thalib, yang diyakininya sebagai duplikat Muhammad.

 

Diambil dari note facebook Ustadz Muhsin Labib

Gaya hidup Imam Ali as

31 Mar

Di antara kebiasaan Imam Hasan di Madinah adalah dia membuka rumahnya jadi semacam dapur umum. Dulu belum ada tempat penginapan atau hotel di Madina. Tiap hari, dia menyembelih onta kecil untuk dihidangkan kepada siapa saja, peziarah Madina atau orang2 miskin, seperti dapur umum, pagi, siang, malam. Siapa saja yg lapar, miskin boleh datang dan makan.

Suatu hari, seorang Arab Badui (dusun) datang dan ikut menikmati hidangannya. Usai makan, dia tidak langsung pulang. Dia duduk dan membungkus makanan, dan memasukkkannya ke dalam tas. Ada beberapa bungkus yang dia masukin sampai Imam Hasan datang menyapa.

Imam Hassan tanya: “Kenapa anda mesti membungkus? Lebih baik, anda datang makan tiap pagi, siang dan malam spy makanannya lebih seger, ketimbang dibungkus.

Orang Badui itu berkata: “Oh ini bukan untuk saya pribadi, tapi untuk orang papa yang saya temui di pinggir kota tadi. Orang papa itu sedang duduk di pinggir kebun kurma, wajahnya lusuh, dan makan dengan roti keras. Dia hanya membahasahi roti itu dengan sedikit air lalu menambahkan garam dan memakannya. Sebab itu, saya membungkus makanan ibi untuknya.

Mendengar itu, Imam Hasan kemudian menangis tersedu-sedu. ” Kenapa Tuan menangis?” tanya Badui itu.

Imam Hasan menjawab, “Tak apa-apa. Saya hanya kasihan kpd lelaki miskin yg di pinggiran kota itu. ketahuilah, lelaki miskin yang kau jumpai itu, yg makan roti keras, sedikit air, dan garam itu, adalah ayahku: Ali bin Abi Thalib. Kerja kerasnya di ladang kurma itu lah yang membuat saya bisa menjamu engkau dan semua orang setiap hari.

Diambil dari note facebook Ustadz Muhsin Labib

Agama dan kesalehan sosial

31 Mar

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal menjelang ashar. Isteri beliau, Fatimah binti Muhammad menyambut kedatangan suaminya yang seharian mencari rezeki dengan sukacita. Menerka-nerka seberapa banyak rezeki yang dibawa Ali, mengingat keperluan di rumah yang semakin besar. Namun harapan Fatimah tak tertuai, Ali berkat, “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun”.

Tidak ada gurat kecewa dari puteri Rasulullah itu, sebaliknya ia menyambut suaminya dengan senyum terindah. “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala” sebuah jawaban yang sejuk terasa hingga ke dalam dada Ali. “Terima kasih,” jawab Ali lembut. Ali tertunduk seraya bersyukur memiliki isteri yang tawakkal, meski keperluan dapur sudah habis sama sekali. Tak sedikit pun Fatimah menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Tak berapa lama, Ali berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah. Sepulang dari masjid, seorang tua menghentikan langkahnya, “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali putera Abu Thalib?” Ali menjawab dengan heran. “Ya betul. Ada apa, Tuan?”. Kemudian orang tua itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya seraya berkata, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali menerima haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Pulang dari masjid dengan membawa sejumlah uang, tentu saja membuat Fatimah tersenyum gembira. Ia meminta suaminya segera membelanjakan kebutuhan sehari-hari di pasar. Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau meminjamkan hartanya karena Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.” Tanpa berpkir panjang, Ali memberikan seluruh uang miliknya kepada orang itu. Ia pun kembali ke rumah sebelum sempat membeli satu barang pun di pasar.

Ali kembali dengan tangan hampa, membuat Fatimah Zahra heran. Kepada isterinya, Ali menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya, lagi-lagi Fatimah, wanita yang dijanjikan Rasulullah pertama kali masuk surga itu pun tersenyum, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita meminjam harta karena Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang akan menutup pintu surga untuk kita”.

Dalam kisah lain, dengan susah payah seorang pengemis datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah untuk meminta sesuatu. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Rasa lapar yang kuat mendorongnya untuk meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Namun tak satupun menghiraukan dan tetap khusyuk dalam shalatnya.

Diambang keputusasaannya, pengemis itu mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Masih dalam keadaan rukuk, orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu. Tidak lama setelah itu, Rasulullah memasuki masjid, melihat pengemis itu lalu mendekatinya.

“Adakah orang yang telah memberimu sedekah?”

“Ya, alhamdulillah.”

“Siapa dia?”

“Orang yang sedang berdiri itu,” kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.”

“Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?”

“Sedang rukuk!”

“Ia adalah Ali bin Abi Thalib,” kata Nabi.

Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, “Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 56).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maidah: 55). Asbabun-nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shofyan Ats-Tsauri.

Rasulullah memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah SWT menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali bin Abi Thalin telah mengajarkan kepada kita tentang makna kesalihan. Bahwa kesalihan bukan hanya soal hubungan antara ia dan Tuhannya, melainkan juga ia dan lingkungan sekitarnya. Ibadah ritual yang berdimensi vertikal tidak cukup untuk meraih predikat salih, mesti diwujudkan secara nyata dengan saling berkasih sayang terhadap sesama makhluk Allah di muka bumi.

Semestinya, kesalihan sosial menjadi bentuk nyata dari kesalihan ritual seseorang. Semakin khusyuk ia beribadah kepada Allah, semakin dekat ia dengan orang-orang miskin, anak yatim dan kaum dhuafa lainnya. Semakin rajin ia menegakkan shalat, semakin rutin pula ia bersedekah menyantuni kaum fakir.

Bagaimana mungkin orang bisa khusyuk beribadah sementara tetangganya merintih kelaparan? bagaimana bisa seseorang rajin mengunjungi Mekah dan Madinah untuk berhaji sedangkan anak-anak yatim di sekitarnya terlantar? Ketika para jamaah berhamburan keluar usai melakukan shalat berjamaah, namun di pelataran masjid ratusan tangan pengemis terjulur meminta sedekah. Sungguh sebuah pemandangan yang memaksa kita bertanya, “sudah cukupkah kesalihan kita? ” Wallaahu a’lam.

Diambil dari note facebook Ustadz Muhsin Labib

Betapa sederhana hidup Imam Ali as Pemimimpin kaum mukmin

29 Mar

Zuhudnya Imam Ali A.S

urla

Makrifat Imam Ali sedemikian kaya sehingga menyinari seluruh nuansa hidupnya. Namun jika kita melihat makrifat Imam Ali atau kesufian beliau, kita tidak akan mendapati kesufian itu bermakna pengucilan diri dari sosial. Beliau adalah orang yang senantiasa berhubungan dengan masyarakat, mengelola urusan pemerintahan dan politik, namun dimensi kesufian beliau tetap tampak

dan terjaga. Kesufian dan zuhud Imam Ali berakar pada pandangannya yang begitu dalam terhadap soal kehidupan dan filsafat alam semesta. Beliau pernah berkata: “Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tempat tinggal.” Imam Ali juga memandang manusia di dunia ini terdiri dari dua macam; orang yang menjual dirinya demi hawa nafsunya dan orang yang membeli nafsunya untuk taat kepada Allah dan menyelamatkan dirinya.Zuhud dalam Islam tak lain ialah menerapkan prinsip-prinsip khusus dalam hidup dengan cara memprioritaskan nilai dan akhlak ketimbang tamak kepada benda-benda materi. Sudah barang tentu Imam Ali adalah orang yang sangat zuhud. Zuhud adalah perilaku yang tak bisa diceraikan dari kehidupan Imam Ali, khususnya ketika beliau duduk sebagai pemimpin umat. Namun Kezuhudan Imam Ali bukan berarti uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat atau hidup layaknya seorang pertapa. Malah kezuhudan bagi beliau justru inheren dengan melaksanakan tugas sosial demi cita-cita yang besar.Ayatullah Murtadza Mutahhari, pemikir besar Iran tentang zuhud Imam Ali berkata: “Dalam pribadi Imam Ali, antara zuhud dan tanggungjawab sosial bertemu. Imam Ali adalah seorang yang zuhud sekaligus orang yang paling peka terhadap tanggungjawab sosial. Beliau termasuk orang yang paling sukar tidur ketika menyaksikan ketidak adilan atau mendengar rintihan orang-orang kecil. Beliau tidak pernah mengenyangkan perutnya selama ada orang-orang yang lapar di sekitarnya.”George Jordac penulis Nasrani asal Libanon, dalam hal ini menuliskan: “Imam Ali jujur dalam zuhudnya. Dalam semua perbuatannya dan apa yang keluar dari hati dan lidahnya tak lain adalah kejujuran. Beliau zuhud dalam menghadapi kenikmatan dunia, beliau tidak mengharap mendapat pemberian dalam memerintah. Beliau merasa cukup hidup dengan putra-putrinya dalam rumah kecil dan memakan roti yang dibuat dari tangan istrinya sendiri. Dan sementara beliau menjabat sebagai Khalifah, beliau tidak memiliki pakaian untuk menahan hawa dingin….. hal ini merupakan derajat yang tertinggi dari kebersihan jiwa.”Imam Ali adalah orang yang paling muak terhadap kehidupan yang dikelas-kelas oleh faktor materi dan gaya hidup yang glamor. Diriwayatkan bahwa suatu saat, Imam Ali mendengar salah satu bawahannya, yaitu Usman bin Hanif yang merupakan gubernur wilayah Basrah (IRAQ)diundang dalam sebuah pesta. Dalam pesta ini, tamu yang diundang adalah dari kalangan elit. Begitu mendengar berita ini, Imam Ali langsung menegur Usman bin Hanif. Beliau berkata: “Aku dengar engkau telah menghadiri sebuah pesta yang hanya mengundang orang-orang mampu dan tidak ada orang fakir. Disitu engkau menikmati aneka ragam jamuan. Jika engkau ingin bekerjasama denganku, maka hindarilah perbuatan seperti itu, jika tidak aku persilahkan engkau mengundurkan diri.”

Hak asasi setiap individu masyarakat manusia ialah masing-masing dapat menikmati kehidupan secara manusiawi. Adapun yang dapat kita saksikan sekarang adanya sekelompok orang hidup dengan serba kenikmatan dan kemegahan, sementara sekelompok lain menderita kemiskinan, maka ini merupakan salah satu tanda bahwa orang-orang kaya tidak mau melakukan kewajiban mereka. Menurut Imam Ali tidak akan ada orang kelaparan bila hak yang lemah diindahkan oleh orang kaya. Namun demikian, diantara penyebab kesenjangan sosial juga bisa kembali kepada orang fakir yang tidak mau melaksanakan tugasnya untuk mendapat kehidupan yang layak. Dalam hal ini, Imam Ali berkata: “Apakah pantas bila kamu lebih lemah dari semut, padahal makhluk kecil ini dengan usaha penuh telah membawa makanannya ke dalam sarangnya dan setiap hari ia sibuk dengan kegiatan.”

Tak terlukiskan betapa besar kasih sayang beliau terhadap fakir miskin. Perhatian beliau amat besar kepada mereka yang memerlukan pertolongan. Diriwayatkan pada suatu hari beliau berada di masjid. Ketika sedang khusyuk menunaikan solat, tiba-tiba beliau dihampiri oleh seorang pengemis. Kekhusyukan beliau ternyata tidak membuatnya lupa akan apa dan siapa saja. Ketika sedang ruku’, beliau menjulurkan tangan untuk menyerahkan cincin yang melingkar dijarinya. Maka pengemis itu segera mencopot cincin itu kemudian memenuhi keperluannya dengan cincin itu.

Allah SWT kemudian mengabadikan kisah ini dalam Al-Quran. Sebagaimana pendapat banyak ahli tafsir, Surah Al-Maidah ayat 55 diturunkan berkenaan dengan kejadian ini. Ayat ini menyatakan: “Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah dan rasulnya serta orang-orang Mukmin yang mendirikan solat, dan memberikan zakat ketika dalam keadaan ruku’.”

Pandangan-pandangan Imam Ali yang dicerap dari Islam mengenai hak-hak sesama manusia dikenal sebagai sangat dalam. Keputusan-keputusan Imam Ali dalam mengadili kasus-kasus yang ada, dipandang sebagai bintang dalam sejarah, sampai-sampai para hakim saat itu berkali-kali menyatakan dirinya akan celaka jika Imam Ali tidak ada.

Sebagai contoh, pada masa kekhalifahan sebelum beliau, pernah seorang wanita terbukti berbuat zina dan hendak dihukum rajam. Imam Ali tiba-tiba meminta agar hukuman itu ditangguhkan. Orang-orang disekitarnya keheranan. Namun Imam Ali segera memberi alasan. Kata Imam Ali wanita tersebut hamil, dan anak yang dikandungnya tidak semestinya menanggung beban dosa ibunya. Anak itu punya hak untuk hidup. Karena itu, hukuman harus ditangguhkan hingga wanita itu melahirkan anaknya yang tidak bersalah.

Dalam riwayat lain, juga dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali datang kepada seorang Qadhi untuk menyelesaikan suatu urusan dengan orang lain. Qadhi atau hakim ini lebih menghormati Imam Ali. Melihat sikap ini, Imam Ali kecewa dan menegur sang Qadhi. Maksud Imam Ali ialah, dalam sebuah pemerintahan yang berlandaskan jiwa pengabdian kepada Allah, pemerintah dan rakyat sejajar di depan hukum. Pemerintahan dalam konsep Imam Ali yang diserap dari ajaran Islam bukanlah menjauhi rakyat dan tidak memperhatikan kondisi umum serta keperluan setiap orang, melainkan pemerintahan adalah sarana untuk mendekatkan pemimpin dengan rakyat. Pemerintahan adalah media untuk mencurahkan kasih sayang terhadap seluruh lapisan masyarakat. Imam Ali berkata: “Hati rakyat adalah gudang yang menyimpan gerak-gerik penguasa. Jika di gudang ini tersimpan keadilan, maka keadilanlah yang akan terpantul darinya. Jika kedzaliman yang tersimpan, maka kedzalimanlah yang akan terpantul darinya.”

Jika dalam sebuah pemerintahan, kasih sayang dan kecintaan menjadi darah daging seluruh lapisan masyarakat, maka keharmonisan akan mengikat rakyat dan pemimpin. Keharmonisan ini telah dipersembahkan oleh Imam Ali di masa kekhalifahannya. Dalam wilayah pemerintahan beliau, jangankan seorang Muslim, minoritas pemeluk agama-agama lainpun bisa hidup dengan tenteram di sisi umat Muslim. Kepada gubernur dan semua bawahannya, Imam Ali selalu berpesan agar memperhatikan hak seluruh lapisan masyarakat.

Imam Ali pernah berkata: “Demi Allah, aku bersumpah, andaikan aku dipaksa tidur di atas duri-duri padang pasir, atau aku dibelenggu kemudian dipendam hidup-hidup dalam tanah, sungguh ini semua lebih baik daripada aku berjumpa Allah dan Rasulnya di hari Kiamat sementara aku pernah berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah.”

Suatu hari Imam Ali A.S berpidato di tengah sekelompok masyarakat. Orang-orang yang mengerti akan makna dari pidato beliau dengan cermat mencerna ucapan-ucapan beliau. Imam Ali A.S berbicara mengenai Akhlak. Di pertengahan Khutbah itu, beliau berkata: “Waspadalah, jangan kalian sambut gunjingan terhadap seseorang. Banyak sekali ucapan yang batil, tapi ia akan musnah, yang tinggal hanyalah amalan manusia karena Allah menyaksikan dan mendengar. Ketahuilah bahwa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari lebar empat jari.”

Saat itu tiba-tiba seseorang bertanya: “Bagaimana bisa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari empat jari?

Untuk menjawab pertanyaan ini Imam Ali menunjukkan empat jarinya kemudian beliau letakkan di tempat antara mata dan telinga, kemudian beliau mengucapkan: “Kebathilan adalah ucapan yang aku dengar dan hak adalah ucapan yang aku saksikan.”

Maksud Imam Ali dari ucapan ini adalah jangan sekali-kali kita terima apa yang kita dengar sebelum kita yakin akan kebenarannya.

Tersebut satu kisah, ketika kota Kufah waktu itu diselimuti kelam, manakala matahari sudah lama tenggelam. Rumah-rumah sudah tertutup rapat dan penghuninya pun hanyut dalam tidurnya. Pertengahan malam sudah berlalu. Di tengah kesunyian itu tampak bayang-bayang seseorang bergerak perlahan di halaman darul Imarah Kufah. Dua orang yang tidur di halaman itu kemudian terbangun. Dua orang itu mengenal bayangan itu. Bayangan itu adalah bayang-bayang Imam Ali A.S. Tubuhnya gemetar. Dari mulutnya terdengar sayup-sayup bunyi beberapa ayat-ayat terakhir surah Ali Imran. Arti ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah, baik dalam keadan berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan mereka itu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka.”

Imam Ali A.S mengulang-ulang bacaan ayat itu, dan terlihat tubuhnya semakin bergetar karena tangisannya. Menyaksikan pemandangan seperti ini, dua orang yang tak lain adalah sahabat Imam Ali itu tiba-tiba turut menitikkan air mata. Kemudian Imam Ali menghampiri mereka.

“Wahai Amirul Mukminin!” kata salah seorang dari mereka. “Engkau terguncang sedemikian rupa di depan keagungan Ilahi, lantas bagaimana dengan kami?”

Imam Ali melemparkan pandangannya ke tanah. Sejenak kemudian beliau berkata: “Suatu hari nanti, kita semua akan dihadapkan kepada Allah, dan tak sedikitpun amalan-amalan kita tersembunyi baginya. Jika sekarang engkau mengingat Allah, niscaya kelak pandanganmu akan terang benderang. Kesempurnaan iman terletak pada kecintaan kepada Allah. Jika engkau mencintai sesuatu, pasti ingatanmu akan tertambat padanya, dan engkau tidak akan mencintai yang lain melebihi kecintaanmu kepadanya.”

Setelah itu perlahan-lahan Imam Ali meninggalkan dua orang sahabatnya kemudian menghanyutkan dirinya dalam rintihan doa.

Suatu hari, sekelompok masyarakat tampak berkumpul disebuah jalan utama kota Anbar. Wajah mereka tampak tengah menanti-nanti tibanya seseorang dari arah jauh. Para pemimpin kota itu berada di barisan terdepan di atas kuda.

Tak lama kemudian tampaklah bayangan dari jauh. Bayangan itu semakin mendekat dan masyarakatpun semakin tidak sabar untuk menatap wajah pemimpin besarnya, Imam Ali A.S. Ternyata bayangan seseorang yang mengendarai kuda itu ialah Imam Ali A.S. Beliau tiba di gerbang kota. Untuk menyambut beliau, para pemimpin kota itupun segera turun dari hewan yang dikendarainya kemudian menghampiri Imam Ali dan melakukan sembah takzim di atas tanah.

Melihat itu, Imam Ali tampak kecewa. “Apa maksud dari yang kalian lakukan ini?” tanya Imam Ali A.S. “Ini adalah tradisi resmi kami untuk menyambut dan menghormati seorang tokoh besar”, jawab mereka.

Namun dengan nada kecewa Imam Ali A.S. berkata: “Demi Allah, apa yang kalian lakukan itu sama sekali tidak akan menguntungkan kalian. Apa yang kalian lakukan itu sia-sia, malah mendatangkan azab akhirat. Betapa ruginya menyibukkan diri sementara kesibukan itu malah mendatangkan azab.”

Ali bin Abi Thalib (salam baginya), selain dalam kehidupan pribadinya, ia adalah orang yang zuhud (sederhana dalam hidup), beliau memandang bahwa zuhud bagi penguasa merupakan sesuatu yang penting dan wajib. Beliau berkata, “Allah menjadikanku sebagai imam dan pemimpin dan aku melihat perlunya aku hidup seperti orang miskin dalam berpakaian, makan, dan minum sehingga orang-orang miskin mengikuti kemiskinanku dan orang-orang kaya tidak berbuat yang berlebihan.” (Biharul Anwar, jilid 40, hlm. 326)
Imam Ali bin Abi Thalib memakai pakaian yang keras, yang dibelinya seharga lima dirham. Pakaian itu bertambal sehingga dikatakan, “Wahai Imam Ali! Pakaian apa yang engkau kenakan?” Beliau berkata, “Pakaian yang menjadi contoh bagi Mukminin menjadi penyebab khusyuknya hati dan tawadhu’, menyampaikan manusia kepada tujuan, merupakan syiar orang saleh, dan tidak menyebabkan kesombongan. Alangkah baiknya kalau Muslimin mencontohnya.” (Biharul Anwar, jilid 4, hlm 323)
Dalam suratnya kepada Usman bin Hunaif, Imam Ali menyatakan: “Setiap makmum memiliki imam yang diikutinya dan dimanfaatkan cahaya ilmunya. Ketahuilah bahwa imam kalian qanaah ‘merasa cukup’ dengan dua pakaian yang sudah tua dan makanan dengan dua keping roti. Namun, kalian tidak mampu menerima hal seperti itu. Maka, bantulah aku dalam menjauhi dosa dan jihad nafs serta menjaga iffah (kesucian diri) dan kebenaran. Demi Tuhan! Dari dunia kalian, aku tidak menyimpan sedikit pun dan dari ghanimah (harta rampasan perang), aku tidak menyimpan sesuatu apa pun. Aku tidak membeli pakaian karena cukup dengan pakaian tuaku. Adakah aku cukup puas dengan masyarakat yang memangilku Amirul Mukminin tetapi tidak menyertai mereka dalam penderitaan dan kesulitan hidup serta tidak menjadi contoh dalam menahan kesulitan-kesulitan? Aku tidaklah diciptakan untuk disibukkan dengan makanan-makanan yang enak, seperti binatang ternak yang kehidupannya hanyalah untuk makan rumput atau binatang liar yang sibuk makan dan lupa dengan masa depannya.” (Nahjul Balaghah, surat nomor 45)
Di bagian lain dari surat yang sama, beliau menyatakan: “Apabila meghendaki, aku tahu bagaimana caranya membuat madu yang telah disaring, biji gandum dan pakaian sutera. Namun, semoga hawa nafsu tidak mengendaraiku dan kerakusan tidak menyeretku kepada berbagai jenis makanan. Padahal, mungkin Badui Hijaz atau Yaman tidak mempunyai harapan untuk mendapatkan makanan roti dan tiada pernah mengenyangkan perut mereka sedangkan aku tidur dengan perut yang kenyang sementara di sekelilingku, banyak perut yang lapar dan kerongkongan yang haus.” (Nahjul Balaghah, surat 45)

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as, “Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi di sisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia”.

Sebelum memasuki pembahasan tentang kezuhudan Sayyidah Fatimah as dalam menjalani kehidupan, kita harus mengetahui terlebih dahulu makna kezuhudan itu sendiri. Makna kezuhudan dalam Alquran adalah sebagai berikut, “Supaya kalian tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian.”

Sayyidah Fatimah as adalah seorang wanita yang sangat sederhana dan sama sekali tidak tertarik dengan keindahan dunia. Beliau selalu mencari keridhaan Allah swt karena keridhaan-Nya merupakan kenikmatan
yang paling tinggi. Bentuk kerelaan Allah swt untuk hamba-hamba-Nya bukanlah dunia yang hina dan fana ini, akan tetapi alam akhirat yang mulia dan abadi. Sebagaimana Allah swt dalam surat Al-Anfal 67
berfirman, “Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah swt menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).”

Waktu Sayyidah Fatimah as banyak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Beliau sama sekali tidak menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia karena cinta terhadap dunia merupakan penghalang
untuk sampai ke tujuan yang mulia. Keindahan dan kesenangan dunia bersifat sementara, akan tetapi sangat disayangkan banyak manusia yang tertipu ketika melihatnya. Mereka tidak sadar bahwa ada kehidupan yang lebih indah dan lebih menyenangkan dibanding dunia.

Oleh karena itu Sayyidah Fatimah as memilih alam kehidupan akhirat karena hakekat kebahagiaan dan kehidupan ada di alam tersebut. Beliau menjalani kehidupannya dengan penuh kesederhanaan dan tidak perduli dengan keindahan dunia. Selain itu Sayyidah Fatimah selalu ridha dengan keadaannya. Beliau sama sekali tidak pernah mengeluh kepada siapapun dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah as adalah sebuah kehidupan yang jauh dari kemewahan. Kesederhanaannya bukan karena beliau miskin namun disebabkan oleh puncak pengetahuan (makrifat) dan kekayaan spiritual beliau.

Bukti terbaik bahwa Sayyidah Fatimah as hidup dalam kesederhanaan adalah ketika beliau memiliki tanah Fadak. Tanah Fadak adalah tanah yang sangat subur karena tanah ini bisa menghasilkan gandum yang sangat banyak sehingga kebutuhan semua penduduk Madinah terpenuhi dengannya. Setelah Allah swt menyuruh Rasulullah Saw memberikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fatimah as, semua keuntungan hasilnya ada di tangan Sayyidah Fatimah as. Namun penghasilan yang banyak ini tidak merubah
kesederhanaan beliau dalam menjalani kehidupan. Semua penghasilan tanah Fadak beliau infakkan kepada masyarakat. Hal ini beliau lakukan hanya demi mencari keridhaan Allah swt. Dari sini kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa kesederhanaan Sayyidah Fatimah as bukan karena keterpaksaan dan kemiskinan tetapi karena kecintaan beliau kepada Allah swt.

Kesederhanaan dan ketidakcintaan terhadap dunia adalah suatu hal yang dicontohkan oleh para Nabi dan Imam as. Tidak ada satupun dari mereka memiliki rasa cinta terhadap dunia seperti yang kita lihat dalam
sejarah kehidupan mereka. Kezuhudan Sayyidah Fatimah as adalah salah satu pelajaran yang didapatkan dari ayahnya.

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as, “Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi disisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia.”

Contoh ajaran Nabi saw kepada Sayyidah Fatimah as bisa kita lihat dalam riwayat berikut ini. Rasulullah sudah terbiasa ketika hendak pergi atau pulang dari bepergian harus menemui putri tercintanya terlebih dahulu. Suatu hari untuk menyambut kedatangan ayah dan suaminya, Sayyidah Fatimah as memakai gelang dari perak dan anting-anting serta kalung. Beliau juga menghias rumahnya dengan memasang gorden yang berwarna warni. Seperti biasa, ketika datang dari bepergian, Rasulullah terlebih dahulu datang ke rumah Fatimah. Namun setelah beristirahat sebentar, Rasulullah keluar dari rumah putrinya dan menuju masjid.

Melihat raut wajah ayahnya yang tidak seperti biasa, Sayyidah Fatimah as menyadari sebabnya. Pada saat itu juga ia membuka gorden dan perhiasannya lalu mengirimkannya kepada Rasulullah saw yang pada saat itu berada di masjid. Sayyidah Fatimah as juga mengirim salam kepada ayahnya dan berpesan supaya barang-barang ini digunakan di jalan Allah. Rasulullah mengambil barang-barang itu dan berkata “Ayahmu adalah tebusanmu, ayahmu adalah tebusanmu! Keluarga Muhammad perlu apa dengan dunia? Mereka bukan diciptakan untuk dunia, akan tetapi mereka diciptakan untuk akhirat, walaupun semua yang ada di dunia diciptakan karena mereka. Seandainya dunia itu memiliki nilai sebesar sayap nyamuk di sisi Allah, maka tidak seorangpun dari kafir akan meminumnya.” Setelah itu Rasulullah berdiri lalu menuju rumah Fatimah as. Riwayat di atas selain menunjukkan ketegasan Rasulullah saw juga menunjukkan ketidakcintaan Sayyidah Fatimah as terhadap dunia, karena tanpa ada rasa berat hati beliau menginfakkan barang-barangnya di jalan Allah.

Diriwayat lain juga dikatakan, suatu hari Salman Al-Farisi melihat Sayyidah Fatimah as memakai cadar yang sederhana, penuh jahitan dan tambalan, terbuat dari kulit pohon kurma hendak pergi menjenguk ayahnya. Salman sangat terkejut dan sambil menangis ia berkata, “Kami sangat bersedih! Putri-putri raja Persia dan Romawi duduk di atas kursi-kursi yang terbuat dari emas dan memakai pakaian yang terbuat dari sutra tetapi putri Muhammad Saw memakai cadar yang sangat sederhana dan memiliki duabelas tambalan.”

Ketika Sayyidah Fatimah as sampai ke rumah ayahnya, beliau mengatakan, “Wahai Rasulullah! Salman sangat heran dengan kesederhanaan pakaianku. Demi Allah, selama lima tahun karpet rumah kami dari kulit kambing yang ketika siang hari unta-unta memakan rumput diatas karpet itu dan pada malam hari kami tidur di atas karpet itu. Bantal kami juga dari kulit yang diisi dengan kulit pohon kurma”. Ketika itu Rasulullah bersabda kepada Salman, “Sesungguhnya putriku berada di barisan terdepan orang-orang yang menuju Allah swt.”

Sekarang kita dapat melihat betapa zuhudnya Sayyidah Fatimah as. Ketika kita menjadikan Sayyidah Fatimah as sebagai panutan maka konsekuensinya kita harus meniru beliau. Dan salah satu contoh yang bisa kita ambil dari beliau adalah kezuhudannya dalam menjalani kehidupan.

Sebetulnya tidaklah sulit untuk menjadi orang yang zuhud ketika kita mengetahui bahwa sebenarnya segala sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Allah swt adalah sebuah amanat, sehingga dengan senang hati dan tanpa rasa keberatan sedikit pun kita akan menginfakkannya kepada orang yang membutuhkan. Selain itu kita juga tidak akan terlalu bergembira dengan apa yang Allah SWT berikan kepada kita. Semua manusia datang ke dunia ini dengan tangan kosong dan juga kembali kepada penciptanya dengan hanya membawa sepotong kain putih.

Seseorang tidak akan pernah bisa menjadi zuhud ketika dia tidak mengetahui hakekat dunia yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali as “Yang berhak dikatakan bahwa orang itu zuhud ketika dia mengetahui kekurangan dunia.” Semoga Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menjadi orang-orang yang selalu diridhoi oleh-Nya.

Di masa khilafah-nya, secara syariat Imam Ali (sa) memiliki hak seperti para penguasa pada umumnya, dalam membelanjakan baitul-mal untuk keperluan pribadi dalam batas yang umum. Namun, berbeda dengan khalifah yang lain, Imam Ali (sa) sama sekali tidak pernah menggunakan harta milik umum. Adakalanya beliau menggunakannya hanya dalam batas yang sangat kecil yang tak berarti. Imam Ali hidup sangat sederhana dan zuhud. Belanja hidupnya ditopang dari panen ladang kurma di Madinah yang beliau miliki sebelumnya.

Zadan berkata: “Bersama dengan Qanbar (pembantu Imam Ali), aku menjumpai Imam Ali (sa). Qanbar berkata, “Wahai Imam Ali! Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Qanbar berkata, “Datanglah ke rumah kami agar aku tunjukkan kepada Anda.” Imam bangun dan bersama Qanbar menuju rumah pembantunya itu. Qanbar menunjukkan satu wadah besar yang dipenuhi dengan emas dan perak. Dia berkata, “Engkau telah membagikan semua harta baitul-mal kepada Muslimin dan tidak meninggalkan sedikit pun untuk diri Anda sendiri. Maka, aku menyimpan dan menyembunyikan harta ini untuk Anda.”

Imam Ali (sa) berkata: “Engkau ingin memasukkan api ke dalam rumahku?” Kemudian, Imam Ali (sa) mengeluarkan pedangnya dan memotong-motong emas dan perak itu lalu memerintahkan agar dibagikan kepada Muslimin. Lantas beliau berkata: “Wahai emas dan perak! Janganlah menipuku! Tipulah selain aku!”

Harun bin Antharah mengutip dari ayahnya yang berkata: “Suatu ketika, aku menemui Imam Ali (sa) di gedung Khurnaq. Beliau melilitkan sehelai handuk di tubuhnya yang menggigil kedinginan. Aku bertanya, “Wahai Amirul Mukminin! Allah swt telah menetapkan bagian dari baitul-mal untukmu dan keluargamu. Namun, mengapa engkau menyiksa dirimu seperti ini!” Imam berkata, “Demi Allah! Aku tidak pernah membeli pakaian dari harta milik kalian dan handuk yang aku lilitkan di tubuhku ini aku bawa dari Madinah.” (Tarjumah Imam Ali bin Abi Thalib (sa), jilid 3, hlm 181)

Asbagh bin Nabathah mengutip ucapan Imam Ali : “Demi Allah! Aku datang ke negeri kalian dengan satu pakaian ini dan perlengkapan hidupku hanyalah kuda (binatang kendaraan). Apabila aku keluar dari negeri kalian dalam keadaan membawa sesuatu yang lain dari apa yang aku miliki sebelumnya, niscaya aku termasuk orang yang berkhianat.”

Di dalam riwayat lain, beliau berkata: “Wahai penduduk Basrah! Mengapa kalian masih mengkritikku?” Kemudian beliau menunjuk pakaiannya dan berkata : “Pakaian ini telah kumiliki sebelum aku berkuasa dan dijahit oleh keluargaku.” (Biharul Anwar, jilid 4, hlm 325)

Pembelanjaan hidup Imam Ali (sa) ditopang dari hasil ladang yang beliau miliki di Madinah dan diperoleh dari Yanbu’ (mata air). Beliau mengundang makan orang dengan daging dan roti sedangkan yang beliau makan sendiri adalah roti, zaitun, dan kurma. (Gharat, jilid 1, hlm 68)

Lomba lapar ala Ali

29 Mar

Suatu ketika al-Hasan dan al-Husain jatuh sakit. Nabi menganjurkan bahwa putrinya Fatimah As dan menantunya Ali bernazar.

Nazar merupakan sebuah janji yang kalian ikrarkan kepada Allah. Sesuatu yang kalian lakukan sebagai tambahan untuk mencari keridaan Allah jika keinginan kalian terkabulkan.

Ali dan Fatimah melakukan nazar dengan melakukan puasa selama tiga hari untuk kesembuhan putra mereka. Pembantu mereka Fizza turut melakukan nazar.

Allah mengabulkan nazar mereka. Al-Hasan dan al-Husain sembuh.

Orang tua mereka memutuskan untuk berpuasa pada hari berikutnya untuk memenuhi janji mereka.  Kedua putranya juga memutuskan untuk berpuasa.

Pada malam harinya saat waktu salat tiba, mereka salat bersama lalu duduk untuk berbuka puasa.

Ketika mereka baru saja akan duduk untuk menyantap hidangan berupa roti, terdengar ketukan pintu. Di depan pintu seorang miskin berdiri dengan wajah memelas meminta untuk diberi makan.

Masing-masing bergegas berlomba memberikan roti mereka kepada si pengemis. Mereka hanya meminum air untuk berbuka puasa.

Pada hari berikutnya, mereka kembali berpuasa. Kembali mereka hendak berbuka puasa dengan sekerat roti sisa yang telah dibakar pada pagi tadi.

Ketika mereka hendak menyantap roti itu, terdengar suara bocah meminta makanan. Meski lapar karena sejak kemarin hanya berbuka dengan air, masing-masing menghadiahkan jatah roti bakar itu kepada bocah yang mengaku yatim itu. Penghuni rumah dan pembantunya pun malam itu mengulang buka puasa dengan air putih.

Pada hari ketiga, peristiwa yang sama pun terjadi. Ketika mereka ingin duduk untuk berbuka puasa, terdengar suara lelaki yang menagku tunawisma mengetuk pintu untuk meminta makanan.

Meskipun mulut mereka sejak dua hari tidak kemasukan benda padat, mereka kembali memberikan potongan roti masing-masing kepada lelaki ibnu sabil itu.

Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw datang menengok mereka dengan membawa kabar gembira bahwa Allah telah menurunkan sebuah surah yang disebut surah ad-Dar untuk memuji pengorbanan yang dilakukan oleh keluarga suci ini.

Sumber Rujukan:

Zamakhsyari, Tafsir Kasysyaf, vol. 4, hal 169.

Diambil dari note facebook Ustadz Muhsin Labib

Syi'ah Menjawab

Syi'ah mencintai ikhwan Ahlussunnah Wal Jama'ah, Syi'ah mencintai semua makhluk

Liyahnita's Blog

Just another WordPress.com site

Semoga Hidayah-Nya Selalu Menyertai Kita

Mari Bersama Saling Berbagi

Komunitas Ahlilbait Lombok

Allahumma Shalli 'Ala Muhammad Wa Aali Muhammad Wa Ajjil Farajahum

bisnismandiri313

Bekerjalah Untuk Duniamu Seolah Olah Engkau Hidup Selamanya

Blog Ibnu Azmi

99.9% dalil aqli

Kerana DIA...

ALLAH Ta'ala berfirman: "Dan tidak AKU ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKU." (Surah Adz-Dzaariyaat, 51:56)

almuhaddis

Rujukilah Perawi Hadis- Imam al Mahdi(as)

irfanotes

Jejak Langkah Perjalanan Hidup

The_Friday_Man

belajar sekarang, karena tidak ada kata terlambat...

sebopo.wordpress.com/

Graphic Design , News & Fun

sehatalamiyah

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site